Bdg,25Jan2009

January 25th, 2009 by dheemuz

Yes.

Layaknya pengembara gurun Sahara yg barusan dapet minum setelah 4 hari jalan kehausan, begitu juga saya setelah mendapati Pure Saturday bermain tepat di depan saya. Live and loud. Dibuka dengan “Pathetic Waltz” dan ditutup dengan lagu dari pujaan mereka, “Boys Don’t Cry” The Cure. 15 tahun ngefans, baru sekarang ada kesempatan menyaksikan salah satu legenda indie-pop Indonesia ini mentas. Dan ternyata, setelah 15 tahun ini juga PS baru bisa mengadakan konser tunggal perdana mereka. Sejarah ketemu sejarah. Repertoar dibawakan dengan amunisi sekitar 20-an lagu, dengan ekstra penampilan penambah aroma rock and roll dari Rekti The SIGIT dan permainan melodi gitar akustik canggih dari Agung Burgerkill. P.U.A.S

Sebelumnya hari dihabiskan dengan beli merchandise sana sini, dapet tiga potong kaos oblong dan satu hoodie baru. Lumayan. Sempat menghabiskan waktu di PvJ dengan Nenny, Lindo, Raisya the cutie dan sang papa-mama, additional mystery guest yg mengagetkan wwkwkwk.

Akhirnya,off dua hari ini akan ditutup esok hari, untuk kemudian langsung menyongsong jam demi jam di bawah terminal 2D Airport Soetta. Long live the future!

Horas.

Bdg,24Jan2009

January 24th, 2009 by dheemuz

Hidup tidaklah selalu linear. Paling tidak, Efek Rumah Kaca akan setuju dengan pernyataan itu, dan tentunya saya juga. Tidak akan ada yang bisa menebak alur hidup kita tanpa menjalaninya lebih dulu, tidak juga that fuckin witch Mama Lauren dengan semua liur propaganda cenayangisasinya. Hidup-mati-jodoh-rezeki sudah ada ketetapannya, tepat ketika roh ditiupkan ke ubun-ubun masing masing dari kita dan disusul oekan bayi pertama.

Saya pribadi bingung juga dengan perjalanan hidup saya, terutama dalam 10 tahun terakhir. Profesi yang pernah saya jalani persis seperti minuman tutty-frutty : rame. Pernah jadi resepsionis hotel. Pernah jadi staff permit and license buat ekspatriat. Pernah ngelanjutin sekolah ke jenjang berikutnya (dan sampai kata ‘pernah’ saja barangkali). Dan tiba-tiba saja, saya bisa berbelok ke dunia yang asli tidak pernah saja bayangkan sebelumnya. Penerbangan. OK, saya tentunya bukan bagian yang terbangnya, sehubungan umur yang sudah tidak kapabel untuk menjadi crew on-flight apapun. Perusahaan saya lebih fokus ke ground handling servicesnya. Bermula sebagai seorang staff dokumen penerbangan, nasib menuntun  saya direkrut menjadi seorang Load Controller. Pekerjaan cukup rumit yang tentunya gak kan ada sambung-menyambungnya dengan teori Shakespeare dan segenap karya Hamlet, yang menjadi latar belakang pendidikan. Balik ke pernyataan di paragraf pertama, jangankan orang, saya sendiri merasa aneh dengan arah terbaru hidup saya ini.

As wise man say ” stay through the path”

Saya akan coba jalani saja alur ini. Ikuti arah angin, arungi riak yang ada. Rencana Tuhan tidak ada yang tahu.

Well, sambil sok error begini, saya lagi nunggu-nunggu hari Minggu tanggal 25 Jan besok nih. Menyaksikan live concert Pure Saturday untuk pertama kalinya di kota asal si band. Sebagai seorang jemaah metal yang taat, saya tetap tidak bisa menepis sosok mereka sebagai salah satu musical heroes buat perkembangan selera musik pribadi. Saya sering sekali, di kala SMP dulu, ber- ‘air guitar’ akustik di depan cermin sambil komat-kamit mengiringi alunan lagu “Kosong” dari tape Polytron buluk kebanggan keluarga. Hail PS, one of the leader of Indonesian indies movement! Mereka bisa membuat lagu pop tentang cinta  yang baik dan benar tanpa perlu menjadi cengeng, seperti layaknya semua band pop cowok kekinian yang pantas diragukan jenis kelaminnya.

Horas.

KillOldYear

December 26th, 2008 by dheemuz

Berarti sebentar lagi kita akan menukar kalender 2008 gambar Paramitha Rusady metik cabe dengan almanak 2009 gambar vokalis Paramore pake bikini two pieces doang. Sebentar lagi akan ada jokes usang “wew,kita di luar rumah setahunan ya” pas ada di jalanan di penghujung Desember. Dari sekarang kita akan melihat aneka jenis terompet kertas - bukan terompet saja, sudah ada trombone malahan- beredar di jalanan, memancing anak-anak anda untuk merengek minta dibelikan dan akan menulikan kuping sampai Januari ke dua. Segala tetek bengek “Midnite Sale”, “Have your New Year’s Eve with Us”, “Special Package for Two for the Last Sunset of 2008″ akan eksis di semua advertising cetak ataupun elektrik. Dan segenap resolusi-resolusi yg dikoarkan para selebritis untuk tahun depan mereka sendiri, tentunya tak lupa dari mereka yg sedang di balik penjara.

Susah untuk memastikan sensasi apa yg sebenarnya mereka dapat ketika ada dalam euforia pergantian tahun. Lihatlah orang-orang yg rela bermacet ria di jalur Jakarta-Puncak, Jakarta-Bandung, Jakarta-Anyer, Padang-Bukittinggi, Pekanbaru-Bukittinggi (tentunya rute yg saya hafal ya sobat,mohon dimaafkan). Pada akhirnya yg terjadi adalah kehabisan tempat, atau malah  Tahun Baruan di aspal.  Atau mereka yg  bela-belain  menabung, terus menghabiskannya untuk membuka kamar dan membeli segenap tiket acara yg terjangkau kantong mereka, serta menginstall alkohol terbaik yg mereka punya sepanjang malam.

Si Tahun Baru sendiri akan bergulir dengan sendirinya.

Perpindahan jarum jam dari 31 Desember 23.59 ke 01 Januari 00.00 sepertinya, dan sudah pasti tentunya, akan terjadi seperti ribuan tahun Masehi di belakang kita. Seluruh jam digital juga akan pasti bertukar penanggalan secara otomatis begitu hari berganti. Semuanya sudah amat-sangat rutin terjadi, ketetapannya dijamin sendiri oleh yg Di Atas Sana kecuali kalau Dia sendiri menginginkannya berhenti. Jadi buat apa merayakan sesuatu yg emang sudah berjalan pada tempatnya, selain faktor pertukaran kalender tadi?

Well, pastinya ada yg bilang “suka-suka guelah!”  Saya juga monggo aja kalo mau tetep ngrayain, badan milik masing-masing bukan? For me myself, it’s useless. Kalo ngantuk pas pertukaran tahun terus kalian bawa tidur, si 2009nya juga datang sendiri. Kalian mabuk apa nggak, si Paramitha Rusadynya juga pasti bakal bertukar dengan penanggalan Chinese model sobek per hari gambar puyer dan Vivian Hsu. Momen yg tepat untuk merenung-kontemplasi-memikirkan resolusi apa yg bagus buat tahun depan? Sepertinya introspeksi masalah bisa kita lakukan SETIAP saat, segera laksanakan perubahan kalo salah dan pertahankan kalo udah benar. Menunggu momen pergantian tahun hanya untuk melakukan itu? Kelamaan mas,mbak.

Selamat bertukar tahun! Atau selamat bertukar hari seperti biasa, dari 31 Desember ke 1 Januari!

ReviewAILDConcert

November 30th, 2008 by dheemuz

Berdiri agak ke pinggir untuk rehat sejenak, di depan sana As I Lay Dying sedang membawakan ‘Forever’. Lagu yg tepat untuk ber-sing along ria dan cukup untuk headbanging di tempat.  Terlibat di pusaran moshing yg brutal dan lingkaran circle pit yg terus berlanjut akan sangat menghabiskan energi, kalo dilakukan terus menerus sepanjang konser. Biar terlihat ganas, sebenarnya massa ini amatlah santun. Kalo emang ga mau body contact, berarti jangan ke tengah. Kalo memutuskan terlibat, berarti emosi jangan ikutan. Siapa yg jatuh harap dibantu, tak lupa angkat tinggi sepatu teman yg terlepas karena saking bersemangatnya moshing. Perilaku peduli teman yg mungkin bisa jadi gak bisa ditemukan di konser musik lembut, atau musik lelembut, dimana yg ada hanyalah lautan HP berteknologi tinggi yg sibuk merekam setiap detik dari momen yg ada di depan. Apakah anda sedang menonton pertunjukan live, atau fokus pada usaha mendapatkan pertunjukan konser untuk di rewind? Coba pilih salah satu, anda sudah keluar banyak uang untuk itu. Atau emang dasar tabiat orang gak mau rugi kali ya. Saya rasa kita sepakat kalo kita sedang berada di tengah pertunjukan musik hidup, bukannya pameran HP berkamera.

Cuman, momen yg saya lihat itu sedikit banyaknya didukung oleh fakta tersaringnya penonton AILD dengan harga tiket yg cukup mahal, dengan penjagaan ketat sehingga substansi-substansi memabukkan tidak ada yg lolos ke dalam venue, sesuatu yg sering menjadi pemicu keributan, ataupun kerusuhan yg bisa berujung ke munculnya korban. Kebrutalan yg muncul di tengah moshpit murni having fun, seperti segerombolan anak-anak berkaos hitam yg memiliki cara aneh untuk berolahraga. Memar-memar sudah biasa. Buat yg berkacamata, yakinkan diri anda bahwa posisi si alat bantu penglihatan sudah mantap untuk menemani jenis olahraga yg satu ini. Jatuh hancur terpijak tanggung sendiri.

Burgerkill membuka malam dengan tujuh tembang menggerinda, dengan dua di antaranya sepertinya materi baru buat album mereka berikutnya. Lagu pamungkas adalah ‘Atur Aku’,dibawakan dengan rapinya di bawah tatapan si pencipta lagu asli yg duduk di tribun, mungkin keki dengan fakta bahwa lagunya ternyata bisa menjadi lebih ’setan’ dari aslinya. Huhuhu.

Saya tidak menghitung berapa lagu dibawakan AILD tadi malam. Belasan begitulah. Bagaimana mungkin bisa konsen menghitung berapa lagu yg dibawakan, ketika sepanjang konser kita seperti kerasukan jin aneh yg memaksa kita berhead-banging terus-terusan? Lagu-lagu lawas yg dibawakan ada beberapa, yg saya ingat ada ‘Through Struggle’ ama ‘Illusion’. Too bad, ‘94 Hours’ tidak dibawakan. Sesuai judul turnya, kebanyakan lagu diambil dari album terakhir mereka, An Ocean Between Us. Eben dari BK bermoshing ria tepat di sebelah saya. Gitaris Pain Killer yg jelita berdiri agak di tengah,tentunya keikut sertaan dia untuk moshing hanya akan menimbulkan euforia,jadi sepertinya dia hanya bisa menahan diri saja dengan sesekali headbang, hehehe.

Hail Solucite! Can’t hardly wait for 090309,when the pure American Metal warrior is coming to town. See you all at Lamb Of God’s pit!

SeeYouAtNov30!

November 27th, 2008 by dheemuz

Seperti layaknya sebuah tawuran besar yg sudah di depan mata,dengan masing-masing siswa yg terlibat sudah siap dengan batu dan gesper runcing, untuk kemudian dibubarkan begitu saja oleh bapak Wakil Kepala Sekolah.

Like a masturbation without any ejaculation.

Atau sebuah pesta ajeb-ajeb dimana semua pesertanya sudah kepalang tinggi dihanyut substansi memabukkan,ketika mendadak pihak berwajib menggrebek dan merazia satu persatu pengunjung;memaksa mereka sadar mendadak ketika sudah nyaris sampai di titik yang diinginkan.

Gantung.

Bukan lagu dari Melly tepatnya. Tapi suasana itu yg saya rasakan ketika mendapati kenyataan konser As I Lay Dying di delay ampe tanggal 30 November besok, karena band yg bersangkutan terkena imbas demonstrasi besar-besaran di Bangkok. Mereka terjebak di sana dalam perjalanan menuju Jakarta, dan memaksa mereka menempuh perjalanan darat sambung-menyambung menjadi satu demi sampai ke Kamboja,untuk kemudian menemukan penerbangan tercepat ke Nusantara.

OK, itu derita mereka sendiri sih. Yg bikin ngegantung itu adalah ketika pihak panitia tidak merelease kabar apapun sampai ke hari H (dan jam D). Saya termasuk yg kecele. Dari rumah sudah ready dengan stelan standar yg membuat saya terlihat seperti kloningan Permadi SH. Well,dress code standar emang sudah begitu aslinya. Mental sudah disiapkan untuk sebisa mungkin gila-gilaan nantinya,terlibat circle pit atau pusaran moshing sangat dihalalkan,dan pastinya dinantikan. Belum perjalanan mengarungi macet karena saya harus menembus jam pulang kerja warga ibu kota yg sudah hilang urat sabarnya, serobot sini-sana.

Hanya untuk menemukan dua buah flyer putih yg tidak terlalu gede, berisikan permintaan maaf blahblahblah dan menyatakan konser diundur sampai tanggal 30 November.

Pertunjukan emang bukannya batal. Tiket juga bukannya hangus. Apalagi buat saya dan partner nonton si Ibong yg beruntung mendapat dua tiket gretongan, modal cepet-cepetan nelpon doang. Tapi perasaan harus menunda sesuatu ketika semuanya sudah di depan mata itu yg bikin males. Ngegantungin aja. Saya bisa ngebayangin perasaan penumpang di dua mobil minibus berplat L yg terpaksa balik kanan mendapati sang flyer. Saya juga turut prihatin buat metalhead yg sudah datang jauh-jauh, dari wilayah sudut Jakarta yg benar-benar di sudutnya,untuk kemudian hanya bisa terpana membaca si pengumuman durjana. Dari email yg dikirim Tim Lambesis, sang vokalis,mereka sudah menghadapi masalah di Bangkok dari tanggal 25 November, which is only two days left from the D-Day. Kenapa sih panitia tidak cekatan memberitahukan kemungkinan diundurkan ini lebih dini, sebelum para metalhead ini terlanjur datang ke venue? Dalam hal ini, masih lebih bagusan nasib simpatisan Rihanna kalo begitu, yg tau kabar batalnya acara sehari sebelumnya. Itu kalo dari sisi manajemen informasi promotor acara ya.

Well,paling nggak masih ada janji kalo AILD bakal bener-bener di depan mata tanggal 30 besok,dengan Burgerkill menggunting pita. Tertunda tiga hari lebih baik daripada ingkar janji sama sekali. Walau rasa menggantung ini masih mengganggu dikit,but cincaylah.

See you at the nearest circle pit,then!

TentangPercuma

October 27th, 2008 by dheemuz

Pernah nggak nglakuin hal yang kita tahu persis sebenarnya akan agak percuma hasilnya, tapi kita tetap dengan senang hati melakukannya?

Saya pernah, sering malah.

Seperti barusan contohnya. Sudah tau mendung menggantung dengan kemungkinan hujan turun sangat besar, tetap saya bela-belain nyuci motor. Hanya karena emang saya sudah tidak tahan lagi melihat joroknya kendaraan andalan ini. Debunya sampai mengerak, dan jangan-jangan sudah ada cacing disana sini. Resiko mencuci kendaraan ketika hujan mengancam adalah sangat gampang ditebak : ya jorok lagi. Tapi ya gitu, tetap saja saya puas nglihat motor saya bersih, walau mungkin hanya akan bertahan dalam tiga jam ke depan.

Atau seperti hobi saya memandikan si Djoko the buduk cat. Hal ini sebenarnya adalah sama bobotnya seperti menyiram garam ke laut, percuma saja. A big-big useless thing.  Karena toh sebentar lagi dia juga akan pulang dengan tubuh kembali dekil, entah karena kecebur got, kesiram oli atau kalah berantem ama kucing tetangga. Tapi menyaksikan dia bersih (walau sesaat) dengan aroma sisa-sisa Body Shop Kitsna yg diperencer dengan air adalah momen yang sedap buat saya (dan mungkin juga hanya buat saya). Kucing saya kembali fresh sekejap! Walau emang hanya benar-benar sekejap!

Begitu juga hidup. Sometimes we are so happy just to have some silly chat with person we adore that much, only to realize that later on the person will picked up by his/her loving one. Atau ketika memiliki sesuatu yang kita beli dengan kartu kredit : puas sekarang, bengek nyicilnya di belakang. Ini jatuhnya seperti makan cabe sih ya, ketika pedas banget kita bersumpah-sumpah untuk tidak memakan benda merah atau hijau terkutuk ini, tetapi ketika pedasnya hilang kita kembali mengulanginnya tanpa rasa ampun, untuk kemudian kembali mengulangi prosedur sebelumnya. Quite stupid, but we love to do that.

Jadi intinya apa? Ya sifat alamiah kita emang gitu sih. We are tend to think about NOW than THEN. Besok is besok, nanti tinggal nanti. The most important thing is sekarang.  It doesn’t that matter, anyway. Selama kita senang melakukannya, ya lakukan saja. Selama kita sadar penuh untuk hal yang kita kerjakan. Eling pas melakukannya, dan ikhlas untuk hasil yang kadang gak sesuai di belakangnya. Jangan menjelma menjadi sosok penggerutu untuk hal yang sudah kita lakukan dengan senang hati sebelumnya. Itu saja.

Chiao.

CHEERS!

September 12th, 2008 by dheemuz

Haha. Nothing could be more hurting you than got stabbed on your back without any pre-notice in your head.

Imagine this : you walking alone in the pedestrian, your hand  in  your  jacket’s pocket. You just want to enjoy the beautiful scene around, the shiny sunshine or rain pouring down on the grass beside you. Suddenly, and it’s so SUDDENLY, you feel pain in your back. Very hurt. You can smell blood, but still trying not to believe that it does come from yourself. You trying to think that those plasma comes from something but not your own body. But you fail. You can feel cold in your back. The hurt starting to spread, now it attacks your heart. You trying to scrub that strange feeling of itchy and hurt, but it doesn’t work for healing it off.

And you force yourself to turn around. You want to know who the person already give you a warmest greet you ever had. You need to describe the condition you face, the situation which make you wonder to the maximum level. Slowly, you can see the person. The hurt blurring your sight, the blood flooding under your feet. But what figure you see is just doubled-up your pain.

The person is your closest one.

Struggle hard to believe the fact that you see, you just slowly falling down, kneeling in your own pool of blood. What you can do to resist the pain is SMILE, as wide as you can. You just have a little time before your final destination, to realize the lesson you got. JUST BEWARE YOUR BACK. No need to re-attack, but just watch out your own back. Just go die with smile in your lips.

NotInCaseThatI’mANihilist

August 25th, 2008 by dheemuz

  There are way too many subjects, opinions, circumstances, avenues
and other things to consider before anyone in their right mind could
ever give you one sided view on what they think about whatever they
think. But I feel that in itself is the issue. When is it okay to really express how you feel regardless of the “emotions” that could possibly be instilled in other people?

  It’s a huge problem that people are unable to separate themselves
from the outside world. Your only real home is in your mind. Only you
can decide for yourself what is in your best interests whether it’s the
music you like, the clothes you wear, or the girl or guy you wanna marry with.
No one is going to make up your mind for you. Where you want to be in
life or where you are going to be is only where you’re going to put
yourself.

    We are all only given so much time here, if you take a second to
think about it. Literally, every single breath you take could be your
last — which brings me back to my point. When and how does anyone have
the time to care what another person thinks about anything.
Music reviews, movie reviews — critics are truly the most unimportant
and pretentious people out there. Are you really going to be concerned
with what I think about censorship? Technology? The music industry? Any
opinion I’d have would be completely contrived… it would hold no merit.
All in all, anything anyone ever says or does means nothing. And that’s
the truth.

  In this world you can only live each moment for yourself and the
ones you love. Nothing else matters. I don’t want to come off as a
nihilist. I, for one, embrace the idea of beauty, art, love,
friendship. But all the bullshit people “think” they stand for means
absolutely nothing. I implore you to create something, to leave
something behind in this world that means something to you, not to
someone else, not for someone else to decide whether or not what you
did is valuable or meaningful. Just do it to show that you were alive
and that you did something before you ever tasted your last breath.

 
Live for you. And only you.

TanahKelahiran

August 22nd, 2008 by dheemuz

Howdy!

Sudah sepekan berada di tanah kelahiran. Sajian penuh gizi selalu tersedia setiap hari, tanpa perlu pusing mesti keluar rumah untuk pergi mau cari makan apa. Huaah, khasiat kembali berada di tengah keluarga emang manjur untuk menambah bobot. Belum upaya sukses meracuni Haikal, si ponakan tengah dari mas saya nomor satu, untuk mulai rajin menyimak kumpulan klip live at Download Fest ‘07 saya, dan sangat gandrung dengan tampilan Chimaira dan Lamb of God. WUAHAHAHA. Ayolah ponakanku, mari gandeng tangan om-mu menuju gerbang kemaslahatan musik metal, tinggalkan segenap pengetahuan Wali, Matta dan ST12-mu itu. Musik itu hanya akan membawamu paling banter menjadi penyedot septic tank, nak.

  Tak lupa menjelajah kota. Untuk diketahui, ini kota namanya Rantauprapat. Ini ibu kota dari kabupaten Labuhan Batu, Sumatera Utara. Barang siapa melakukan perjalanan darat  dari Medan menuju  Pekanbaru, maka  sudah pasti  akan melewati  kota ini, kecuali rela ambil rute mabok via Danau Toba yang lama perjalanannya dipastikan akan menghisap setengah nyawa kalian.  Ini kota terkenal sebagai kota lintas, dan menawarkan komoditi perkebunan sebagai data tarik investasi utama. Kelapa sawit ataupun karet. Pariwisata? Nothing, kecuali kalau maen air di kali butek pake ban dalem truk udah bisa dianggap refreshing. Jadilah penduduk wilayah ini kaya materi, tapi miskin hiburan. Kalau weekend, bisa dipastikan gerbong-gerbong KA Eksekutif tujuan Medan akan dipenuhi para kaum hedon setempat, rela menghabiskan waktu sembilan jam PP untuk menyalurkan hasrat belanja maupun hiburan. Ibaratnya, lo buka minimarket sekelas Indomaret aja, dipastikan jadi tempat nongkrong dah di pelatarannya. Supermarket setaraf Suzuya aja, yang gak bakal bunyi kalau diletakin di Jakarta, di sini padetnya bukan maen, every single day. Cuacanya panas. Logat penduduknya khas, sedikit mengayun ala Melayu tapi dengan intonasi keras tujuh desibel versi Batak. Bagi yang berjiwa lembut, berasal dari Kraton Surakarta misalnya (ironically, that’s me for real :D) akan selalu merasa diajak berantem kalo udah di sini, ataupun wilayah Sumut lainnya. Well, sebenarnya ciri khas Sumatera pada umumnya sih.

  Malesnya, penyakit standar birokrasi kekinian juga menyerbu Labuhan Batu. Wacana pemekaran wilayah. Kabupaten ini udah dibagi tiga ternyata, jadi Labuhan Batu, Labuhan Batu Utara, dan Labuhan Batu Selatan.  Saya gak pernah cocok dengan ide pemekaran, entah kenapa. Hanya akan menimbulkan cost baru untuk segala pengadaan infrastruktur kabupaten baru, kayak kantor Bupati dsb. Manfaatnya? Biasanya wilayah pemekaran akan segera makmur karena mereka yakin dengan aset wilayahnya, contohnya Kutai Kartanegara. Selebihnya hanya seperti agenda terselubung untuk bagi-bagi kue kekuasaan. Makin banyaklah proses Pilkada (something sounds democratic at first, but here in Indonesia it turns to be an obligatory shit)  yang harus dilalui, yang jarang banget aman-aman aja dalam pelaksanaannya. Mana dua kabupaten hasil pemekaran Labuhan Batu ini ya biasa-biasa aja asetnya, tawarannya sama aja, perkebunan lagi perkebunan lagi. Jadi buat apa pemekaran?

  Hahaha. Stress sendiri mikir ginian. Mending saya mulai men-toxic Nezad, keponakan bungsu yang baru genap setahun. Syukur-syukur dia jadi demen Suicide Silence, WUAHAHAHA.

  Bersulang.

 

1

August 20th, 2008 by dheemuz

Am i the one who stuck out in the crowd?
Whispering in a half-shout loud?
Riding the train to the nearest proud
But even left only by a tiny doubt

Farewell, son, farewell
Welcome to this bittersweet cell
Which you may spell
On your own way to hell