UnreasonableAnger
Friday, January 19th, 2007 Howdy!
Belakangan, banyak sekali teman yg berada dalam kondisi terjelek. Titik nadir terendah, barangkali. Kondisi sakit bisa jadi menjadi salah satu pemicu. Dan sama sekali tidak ada salahnya bagi seseorang yang sedang sakit untuk misuh-misuh ga jelas. Since it is clear, something going irregular deep inside them. Tidak usah jauh-jauh, pas kalian lagi sakit gigi misalnya. Setiap ada makhluk yang bersuara keras di dekat kalian, pasti ingin kalian tampol. Walau itu bapak kost maupun kepala bagian. Pokoknya bisa dimengertilah. Saya sendiri suka menjelma menjadi oma-oma dari abad pertengahan kalau sedang sakit. Kenapa? Karena memang begitu katarsisnya. Pelepasan. Penyaluran. Persis seperti kelamin. Amin.
Nah, berarti implikasinya, kita bisa terima kalau ada orang yang sedang naik tegangan, selama dia punya alasan jelas. Bagaimana dengan yang tidak punya? Ini dia yang rasanya pengen dilindas pakai perata aspal terberat standar trek sirkuit Silverstone.
Tipe orang begini entah kenapa doyan banget muncul. Entah itu atasan yang tiba-tiba meminta progress kerjaan yang jelas-jelas tenggatnya adalah seminggu lagi, pada hari itu juga. Muka kusut. Dasi agak longgar. Temperamental, mirip ibu Subangun di sinetron zaman baheula. Begitu kita si bawahan sial, dengan agak gemetar tentunya, mengingatkan kalau kerjaan itu dealnya adalah seminggu kemudian, yang ada adalah cerocosan pegawai-gak-becus-dibayar-kegedean-nuntut banyak-kerjaan-gak pernah beres, biasanya diikutin gebrakan meja dan bantingan pintu setelah kita keluar dari ruangan. Tinggallah pegawai yang malang ini, menuju pantry sambil menyusun rencana pergi ke dukun santet Voodoo paling kesohor nanti malam, sekedar mengumpulkan beling-gotri-selampe dekil supir bajaj ke dalam perut buncit sang atasan.
Ada juga dosen yang doyannya marah-marah gak juntrungan. Sukanya menyiksa mahasiswa bimbingan, dengan arahan-arahan yang terasa seperti menuntun mereka ke jurang akademis terdalam. Atas nama penguasaan materi, mereka sanggup mencacah si mahasiswa naas di depan forum dengan ekspetasi berlebih, entah itu supaya terlihat hebat, bersemangat, atau agar mahasiswanya terlihat pilat, dan tercekat di bawah tatapan umat akademia terhormat. Apa yang membuat mereka begitu? Orang berkecenderungan mengulangi apapun yang pernah diterimanya, untuk kemudian ditimpakan ke generasi berikutnya. Somekind of evilian circle. Atau memang hanya bibit psycho yang berlebihan, hasil kekerasan di masa kecil barangkali, dilengkapi dengan perundungan seksual dari saudara terdekat, sejenis pula. Who knows? Who gives a fuck? Tinggallah si mahasiswa malang tercenung, meratapi kapasitas pemikiran yang memang sulit diadjust lagi, sudah maksimal. Emang enak dipermalukan?
Nah, kalau species yang berikutnya ini agak aneh. Suka meradang untuk sesuatu yang sedang dijalani, dan ternyata tidak sesuai seperti yang diingini. Biasanya terjadi pada pihak yang lemah, mendekati kalah. Menyumpahin tempat kerja, tanpa ada usaha untuk keluar dari sana karena mafhum hanya di tempat itulah kemampuannya tereja. Jadi buat apa misuh-misuh? Atau berkeluh-kesah bosan menjalani hidup di suatu kota dan menjalani rutinitas seperti studi. Alhasil malah kotanya dicap sebagai tempat menjemukan. Come on, di awalnya dulu toh kita juga yang memilih sebuah tempat untuk studi, baik itu memang pilihan ataupun keterpaksaan karena nilai ujian saringan yang di luar harapan. Berarti memang sudah segitunyalah kemampuan. Kenapa jadinya kotanya yang disalahkan? Kalau sudah eneg, artinya kita harus buru-buru keluar dari tempat yang eneg tersebut. Kata lainnya, ya musti buruin kelar. Lah ini tidak. Gitu-gitu aja. Mulut doang yang terlatih mengeluh. Mirip sekali dengan kucing saya kalau begitu : hanya bisa mengeong lemah pas kelaparan, meminta belas kasihan dari saya sang tuan, tanpa ada keinginan mencari tikus buruan. Useless.
Dagh!