Archive for February, 2007

Ode

Wednesday, February 21st, 2007

  Reaching the exact point, where everything i feel just within form of something pink. In fact, i prefer wearing black. What this condition truly means? Kinda nature calls or what? Afraid of getting older with no one on my side?
  Have no type of this down - deep - inside feeling for approximately two years. In fact, she is already there for eight years in a row. Then, how can i turn this bloody vital organ called heart? Should i scream the voice? Or raise my adrenaline to go, start the engine to employ the remain rotting instinct named willingness to love and protect. Not repeating, but rebuilding.

Would her?
Dare me?

MalamKontemplasi

Friday, February 9th, 2007

Cheers!
Malem-malem bengong di depan rumah adalah kegiatan rutin terkini saya, terutama bila rombongan kaum barbar dari zaman kapak perimbas tidak menjalankan misi ngopi standarnya. Biasanya hal itu disebabkan turunnya kondisi Scapegoat, entah karena bergaming ria sampai Subuh atau dikuras stamina karena masalah peremp..eh, maksudnya masalah cari tablatur gitar.
  Back to berbengong activity. Malem Kamis kemaren saya, seperti biasa, ditemenin si buduk-ganteng (bagaimana caranya buduk bisa sekaligus ganteng, jangan tanya saya) Djoko, yang berbaring nyantai dengan perut buncit menjijikkan setelah disupply sepotong dada ayam bakar penuh istimewa. MP3 player pinjeman, tentunya dengan headphone kenamaan, mengantarkan bebunyian terbaru dari All That Remains, band favorit saya sebulan terakhir. Holy shit, their brand new album ‘The Fall of Ideals’ is kicking ass totally! Kalo track ‘This Falling’ emang lagi dalem heavy rotation di Headbanger Ball MTV2, apalagi dia masuk di soundtrack film sakit jiwa Saw III. Favorit saya adalah si track nomor enam ‘The Weak Willed’ yang edan tenan. Phil Labonte pamer olah vokal yang rangenya amat lebar, dari growl ala setan jurik, screaming layaknya orang dimutilasi hidup-hidup, sampai senandung melodius di lagu ini. Total! Duet shredder guitarists Mike Martin dan Oli Herbert pamer skill yang bisa membuat iri siapapun. HELL YEAH!
  Anyway, saya memang tidak sedang ingin mereview album.
  Dalam kondisi sendirian di tengah malam yang juga sama heningnya, kontemplasi ringan adalah hal paling layak dilakukan. Segala pikiran biasanya keputar di kepala jam segitu. Biasanya, yang selalu paling sedih adalah ingatan tentang ibu saya. Sepertinya saat-saat terakhir beliau bakal terus nempel seumur hidup, and ready to turn me blue every single time i remember that.
  Sendirian juga menjadi kondisi amat membantu untuk mengadakan konsolidasi mini tentang keadaan terkini diri sendiri. Saya ini lagi ngapain sih? Sudah sejauh apa progress pribadi yang terlampaui? SIAPA yang sedang dicari untuk menemani sisa hari-hari? Pertanyaan terakhir cukup signifikan, saya kira. Itu buat saya loh.
   Jawabannya sebenarnya sudah diketahui, ketiga pertanyaan itu. Hanya kadang memikirkan ulang bisa membantu kita, khususnya saya, membantu untuk menata ulang. Masuk pit stop sebentar seperti ini memang sesekali penting untuk mengisi bensin semangat, juga mengganti roda bila ada yang rada baling. Bahwasanya hidup di siang hari yang berima cerkas, trengginas dan siap melindas kalau tidak awas, harus diimbangi dengan malam yang tenang, tidak apa sedikit menerawang  asal kondisi jiwa kembali seimbang.
   Memang benar, kegiatan menung malam-malam seperti ini sebaiknya tidak dilakukan bila lokasi rumah anda cukup angker. Yang adanya anda bisa kemasukan, dan hal terakhir yang anda perlukan adalah proses Rukyah versi lengkap.
   Biasanya kondisi kontemplasi kecil-kecilan saya akan berakhir kalau angin malam sudah terasa jahat, dan Djoko memelas minta dibawa masuk.

  Selamat mencoba! (jika mau, dan yang dicoba adalah kontemplasinya, bukan kemasukannya)

   Cheers!