Archive for May, 2007

TheTarandamTales : AfterTheGigs part XIV

Monday, May 28th, 2007

   Ngga bisa dipungkiri, kalo perlahan size badan yg memelar cukup mempengaruhi performa kalo nampil bareng anak-anak. Di lagu yg ke-empat, saya sudah lumayan drop juga untuk ngeladenin sound tebal yg keluar dari perkakas tempur Broer, Scapegoat dan Rian. Gerungan instrumen mereka bahkan mampu menutup sound drum Amu, yang kudu memukul bedug Inggris sekerasnya sekedar untuk tetap dapat menjaga beat, di tengah minimnya kapasitas suara yang terpantau dari speaker monitor. Di sayap kiri, tandem Avan juga sudah terlihat ngos-ngosan, dengan keringat setara berlari 13 kali keliling lapangan bola. Show must go on.

   Itu tadi review dari manggung kemaren bareng Honotjoroko. Kembali berformasi enam, dengan Rian di posisi Ibong. Untuk pertama kalinya ‘I Will Cut Twice While You Just Got Once’, serenade sumpah serapah buat para pencampak pasangan tanpa alasan, dibawakan secara live. Untuk pertama kalinya, peran daging versus mesin a.k.a tenaga versus alat dikumandangkan di band ini. Hehehe. Segala macam drive injection pada gitar dan bass ini emang membuat vokalis kudu berteriak lebih kencang, growling lebih dalam, atau tidak terdengar sama sekali. Thanks juga buat simpatisan yang rela datang untuk kemudian mengalami penyiksaan telinga selama setengah jam, dan setelah itu rame-rame berkata "bagooooossss".

   Pulang, Djoko sudah menanti. Teringat bahwa saya sudah menafikan *anjrot bahasanya!* si buduk ini selama dua hari; setelah meletakkan tas saya langsung keluar lagi untuk membawakan sepotong dada ayam bakar di warung deket rumah. Menyaksikan kucing satu ini makan dengan nikmat, menyelesaikan sang ayam sampai tulang terakhir, untuk kemudian menjilat mulut dengan puas dan melenggang pergi sambil tak lupa menggosokkan badannya tiga kali ke kaki saya sebagai ciri khasnya, adalah hiburan tersendiri di malam hari. Badan terasa remuk. Kepala puyeng. Saatnya mengadu kepala dengan bantal dan kasur empuk, hasil dijemur tadi siang di terik hari.

NyawaAtauKacangGorengSih?

Sunday, May 20th, 2007

   Oy!

   Mungkin belakangan yg lumayan masih hangat sebagai berita adalah tewasnya satu keluarga beranggotakan tiga orang yang jatuh dari lantai 6 gedung parkir ITC Permata Hijau Jkt barengan mobil Jazz itemnya (yang berubah ujud menjadi mobil-mobil khas penghuni junkyard dengan efek darah di kaca jendela. Gore enough, huh?). Mungkin teman-teman juga sudah ngeh kalo proses jatuhnya adalah karena ketidakmahiran sang istri dalam membawa mobil (baru sebulan bisa bawa mobil). Mobil meluncur dari jalur turun ke jalur naik dan menghantam pagar pembatas, terjatuh dan nyungsep di lantai dasar gedung parkir tersebut. Saya pribadi tidak mampu membayangkan apa yang berkecamuk, yang terlintas, yang terlihat, yang terdengar oleh ketiga manusia naas itu sesaat ketika melayang di udara untuk kemudian menimbulkan impak yang amat keras dengan tanah. Saya ngga sanggup memikirkan saat-saat sakaratul maut mereka. Nauzubillah!

   Terlepas dari kenapa sang suami membolehkan si istri untuk membawa mobil di area gedung parkir, yang notabene memerlukan kemahiran membawa mobil yang memadai dengan kapasitas jalur yang sesempit dan securam itu (and well, that’s kind of learning also for his wife, right? Alah bisa karena biasa), saya malah mikirnya lebih ke tanggung jawab sang pengelola gedung. Bagaimana mungkin sang pengelola mengatakan bahwa mereka telah memenuhi persyaratan keamanan, bahwasanya pagar dengan komposisi batu bata+semen yang diplester itu sudah cukup. Di Kompas saya baca kalau pihak pengelola mengatakan bahwa fungsi pagar adalah sekedar menjadi panduan kalau itu adalah tikungan. What? Mereka juga menambahkan kalau pagar dengan komposisi sedemikian sudahlah memadai di sebuah gedung parkir, tanpa harus pusing-pusing memikirkan untuk memakai cor-an semen atau beton bertulang sekalian.

   You know, adalah kewajiban pihak pengelola sebuah sarana publik, apalagi yang menerima bayaran dari penggunanya seperti gedung parkir, untuk memikirkan sarana pengaman di fasilitas yang mereka sediakan sampai ke tingkat resiko tertinggi. Tertinggi disini adalah kemungkinan ada kendaraan yang meleng, bablas dan MENABRAK SANG TEMBOK UNTUK KEMUDIAN JATUH KE BAWAH. Untuk kasus Permata Hijau, jangan kata mobil, ditendang anak SMP juga bakal roboh itu pagar, dengan komposisi cetek seperti itu. Dan baru setelah ada kejadian, mereka berkata akan menambahkan tambahan pengaman berupa pagar besi di sebelah pagar yang lama. Fucking stupid. Perlukan tiga nyawa terbang sia-sia (dalam arti harfiah dan arti sebenarnya sekaligus) untuk membuktikan bahwa sarana pengamanan mereka lemah?

    Indonesia memang begitu. Tunggu ada nyawa jatuh, baru diperkuat sistemnya. Tunggu ada pengendara motor jatuh, atau mobil nyungsep, baru lobang di jalanan ditutup. Tunggu ada penyeberang jalan tersungkur ke bawah, baru jembatan penyeberangan di perbaiki. Tunggu ada pejalan kaki yang keserempet truk atau motor, baru trotoar dibersihkan dari pedagang. Nyawa adalah bagian dari riset kelayakan. Saya mikir,mungkin para pembuat kebijakan ini mikirnya bukan yang "EH, SEBELUM ADA APA-APA, SEBELUM MAKAN KORBAN, MARI KITA BUAT YANG TERBAIK",  tapi "TUH KAN APA GUE BILANG, ADA YANG MATI TUH. AYO BURUAN DIPERBAIKI SESUAI STANDAR SEBELUM JADI SOROTAN ORANG". Ngehe!

  Kadang saya bingung, bagaimana menerapkan prinsip BAD OR GOOD, THIS IS MY COUNTRY AND I LOVE IT  :P

TheNations’Divide

Saturday, May 19th, 2007

  Mistakes get proven when no mistake is made, but in time of effort no error tends to relate to make what works differ if it does not paid. Tease the wish of a broken hand to separate.  We made this way to open up a nations’ game and now it is time to play. We made it our way to fidget all terms with trade and conduct the fellowships to fade. So can’t we all distance from this blind faith, before the logics of life are reduced to trade. And redefine "everyone deserves the benefits" of this timeless game of falsified intent.

  The forces of gravity here get spent. They get no hold of our thoughts anymore and in their fall it is not what they are hitting for. Just separate the means and replace the yields. Center the cash-in, now your nation is complete. Have we made it our way to break the eyes that hurt? Is the runner-up is never to be heard? And when whispered by a clerk that’s led astray, do these benches still gather our final words? We made this way to open up nations’ game and in hand only one rule of play. We made it our way. There’s nothing left to give away. So a referee must be installed. So can’t we all part further with things made before the logic of life gets reduced to hate. And redefine "everyone deserves the benefits of their own fucking life"