DemamSabtuMalam
Saturday, July 28th, 2007Seharian dihabiskan dengan asyik. Dimulai dari merayap ke TIKI untuk mengirimkan passport Ina ke kota angkot Bogor. Kemudian terpuruk di BMC ampe sore, ngalor ngidul dengan pemegang lisensi BC Rich dan drummer pencinta alat kesehatan, diselingi makan all-you-can-eat-tapi-awas-gak-abis untuk pengisi perut siang. Menyimak lagu penuh kata-kata dari septic tank terdekat yang didedikasikan untuk band tersohor asal Lampung, Missing Band. Dari cara penuturannya, saya curiga ini orang yang sama dengan pemborbardir radio swasta dan majalah musik 2 tahun lampau dengan ‘Baon Cikadap’. Anyway, doesn’t matter at all.
Malam minggu bengong di AA-11 (harap maklum, dari 6 personil, yg laku baru dua orang, satu menikah, tiga berkarat). Pilih mana : Inter vs Valencia atau Indonesian Puppet Idol? Jam 21.15 berangkat-yiiuukk ke pojokan Hindi Punjab di sudut kota, narik kopi dan nasi goreng berminyak samin dengan porsi walapdolin. Mulut yang gak bisa dijaga bertahan sampai jam 23.30, ditandai dengan tibanya sang calon mempelai buat saudara Marjaik, uhuhuhu. Menuju ke sesawahan di belakang Polamas, dihibur dengan suara orgen tunggal di balik sawah yang sepertinya sangat hot dengan hits seperti ‘Kucing Garong’ dan ‘SMS’; menyambung topik absurd tentang hal-hal berguna seperti :
1. Menyabot pipa air pemadam kebakaran yg terdapat di setiap konser musik dan menghubungkannya ke truk tinja. Tertawa membayangkan betapa chaos hasilnya.
2. Menjadi dermawan gratis penyalur pil-pil kenikmatan untuk para penggemar dunia malam, disanjung sedemikian rupa saking baiknya membagikan tablet-tablet mungil tanpa bayaran; hanya untuk kemudian mendapati kenyataan bahwa sang tablet adalah hasil kejeniusan racikan antara Antimo, broklak dan garam Inggris. Tertawa juga membayangkan efeknya.
3. Menjadi penengah khalayak yang bertempur di dugen (dunia orgen) karena pengaruh cekik botol dan pakem klasik senggol-bacok; untuk kemudian menyuruh sang biduan untuk mengganti tembang yg dinyanyikan dengan anthem klasik tahun 65′an, ‘Genjer-Genjer’. Dan ternyata setiap orang bawa celurit. Beberapa diantaranya bawa palu, sepertinya pandai besi mereka itu. Tetap terkekeh membayangkan kemungkinan tersebut. Sepertinya bakal menjadi film bagus di bawah arahan alm. Nya’ Abbas Acoeb.
Mungkin Tuhan murka karena topik kami yang sia-sia, karena tak lama berselang terdengar jeritan menyayat dari sang gitaris : "Ulaaar!!". Sontak semuanya bangun. Taunya, anak-anak yang ngaku-ngaku metaller sejati ini, yg menghabiskan hari-hari dengan See You Next Tuesday atau The Red Chord, ternyata kompakan geli ama ular. Ularnya dari spesis ular tikus a.k.a ular sawah, dan menurut penuturan ahli ular dari Tembilahan yg juga personil Ardana Mr. Rian Kemenakan, ular itu cukup berbisa. Dia bisa apa saja, maksudnya. Berbagai metoda dicoba, mulai dengan menjolok pake galah, ditaburin garam ampe disiram air panas ama om Flaming Lips (baca : om bibir membara, saking jatuhnya itu bibir). Ada usulan juga untuk menguji coba bisa sang ular pada seekor kucing sial yg kebetulan nongkrong deket-deket situ. Usulan ditolak secara aklamasi.
Itulah resiko nongkrong deket sawah, ya ketemunya makhluk-makluk begituan. Asal jangan pak tani tanpa kepala aja, karena kemungkinan besar pak tani ini ada perasaan cemburu dengan pastur Jeruk Purut.
Tabik.