PolamasMassSuicide
Monday, August 6th, 2007Konyol adalah kata yg tepat untuk mendeskripsikan kumpulan pemuda gak jelas yg lebih mirip kerumunan pelaku kriminal daripada, seperti istilah mereka sendiri, anak musik yg maen secara ber-grup <—- aduuh, susah amat sih bilang band!; yg menjadikan sebuah rumah di kompleks Polamas bernomor AA-11 menjadi neraka hang-out. Waktu yg tepat untuk ikut bergabung dengan keriaan mereka, yg tentu saja ada saya di dalamnya, adalah mulai azan mahgrib (yg selalu dengan segera diikuti dengan tangga nada keduanya oleh Broer) sampai malem banget, untuk tidak dikatakan pagi besoknya.
Apa saja yg dilakukan kalo udah ngumpul gitu? Yg pasti bukan ber gang-bang lah. Tempat rendesvouz itu bisa di lantai atas, kamar Broer, atau lantai bawah, di depan TV. Kalo di atas, maka intisari aktivitas adalah denger musik metal dengan volume yg bisa bikin opa-opa langsung anfal jantungnya. Atau ngulik lagu. Atau baca majalah. Atau ngerumpi *yg terakhir sebenarnya ga banget, tapi mo gimana lagi? Kamyu mau ikut? hwehwehwhe*
Nah, kalo udah di ruang TV, maka fokus utamanya adalah…yah, what else, ya nonton TV! Biasanya channel favorit adalah Metro TV, dengan berita-beritanya yg bernas, dan penyiar-penyiarnya yg cerdas (alaah, bilang aja lantaran cakep semua!). Tapi adakalanya konsol PS2 dinyalakan, dengan game kegemaran NFS Underground, Guitar Heroes II (Six-nya All That Remains? keciill…beginner yah :P) dan tentu saja Winning Eleven. Game terakhir selalu dipenuhi sumpah serapah, ceng-cengan tertajam, dan ledekan terdalam. Jangan pernah makai MU kalo ga bisa menang, karena keponakan jauh pemilik MU, Malcolm Glazer, yg bernama Dimas Glazer, akan segera memaki-maki siapa pun playernya. Hehehe. Bahkan di dunia maya pun MU harus jaya!
Berhubung ruang TV langsung bablas ke dapur, maka kegiatan yg juga sering dilakukan adalah memasak. Who said that metal guys can’t cook? Kemaren aja pas ultah Amu anak2 pada masak spaghetti yg saosnya yummy sekali. Nah, tetapi itu tidak gila, biasa aja. Favorit masakan anak-anak, yg sering dilakukan terutama untuk proses inisiasi orang-orang malang yg jarang hang-out ama anak2, adalah……….jrengjrengjrengjreng : MIE INSTAN MASSAL! *terdengar soundtrack film 300 di kejauhan*
Berbicara tentang mie-nya, ga ada yg aneh. Mau mie goreng atau rebus, serahkan pada chef Broer. Dia akan mengolahnya dengan penuh cita rasa. Yg harus digubris adalah kuantitas mie itu sendiri. Kita terbiasa mengalikan jumlah orang yg ada pada saat itu dengan angka 3 atau bahkan 4, jika sedang nekat. Contohnya : yg lagi ada saat itu adalah saya, Broer, Amu, Apit, Marjaik. Maka minimal pembelian bahan baku mie instan adalah 15, atau kadang 20. Dan kadang mie itu sekalian dibawa dari warung dengan kardusnya sekalian, karena toh 20 bungkus itu adalah setengah kardus, right? Perlu penggorengan besar untuk memasak mie sebanyak itu, serupa dengan penggorengan yg dipakai dalam acara perhelatan. Sudah jelas mie-nya banyak, terkadang masih ada satu dua orang yg nekat makan tetap ditambah nasi (ngaku aja lo Dim!). Jika ada yg penasaran, apa efek yg ditimbulkan dari proses meracuni diri sendiri secara sadar ini, maka dapat dilaporkan bahwa akibat yg timbul adalah :
- kita kenyang banget, tapi perasaan hampa.
- seperti terjadi penurunan kecerdasan, ditandai dengan omongan yg melambat.
- rasa kantuk hebat melanda, ditengarai karena nihilnya gizi pada sang mie.
Well, tetap saja kami tidak pernah tobat nasuha mengadakan pesta durjana semacam. Ada yg niat ikut mass suicide ala kami? \m/