RenunganDiKomputerNomorSembilan
Monday, October 1st, 2007Well, sebentar lagi Ramadhan ini akan lewat juga. Bulan shaum tahun ini komplet banget sebenarnya, at least buat saya. Dimulai dengan kocokan-kocokan yang lebih akrab disebut gempa, yang rutin menyapa selama 2 minggu pertama. Buat beberapa orang, yang mungkin lebih tepat kita kategorikan sebagai pemilik kadar paranoid berlebih, rentetan gempa ini mampu melunturkan nyali dan memaksa mengungsi, menafikan qada dan qadar sendiri. Dimanapun kita bisa mati, right? Selama kita masih mampu berikhtiar, sebaiknya jangan lari sebab ini tanda kita diuji. Sebagai orang dan bagian dari kelompok edan yang selalu mampu menarik sisi lucu dari kejadian paling tragis sekalipun, saya hanya akan segera menyeret badan pemalas saya keluar rumah sebentar, menikmati blender alam ini sebentar, sebelum kembali masuk rumah dan menyambung aktifitas. Ikuti saja alam, dan dia akan akrab dengan sendirinya.
Seperti uang logam, hidup selalu punya dua bagian. Selain sisi suka, pasti ada secuil duka. Ini Ramadhan pertama saya tanpa adanya sang mama, ibu, bunda peneduh hati yang selalu bisa menerima segenap kebandelan, kecerewetan dan selera musik anak bungsunya yang aneh tanpa ada keluhan sama sekali. Sosok yang selalu menanyakan saya mau dimasakin apa, sebelum penyakitnya menggurita dan membuat beliau hanya mampu bergerak dengan kursi roda. Setelah figur bapak saya dengan falsafah ‘hidup jangan ngoyo’ nya yang menciptakan saya menjadi orang seperti sekarang, ibu saya adalah matahari dan embun pada saat bersamaan. Ah, saya merindukan pasangan itu. Berdamailah di sana. Mohon disaksikan saja pergerakan anak-anak kalian dengan hati tenang, karena kami pun mengikhlaskan kalian.
Saya akan pulang, mengarah ke rumah yang membesarkan saya.