SiBawel
Tuesday, November 6th, 2007Ada dua kabar yang masuk kategori ’sucks’ di kuping saya akhir-akhir ini. Pertama adalah tentang kelakuan lancang negara Melayu sebelah yang suka sok enaknya sendiri ama kita. Siapa lagi kalo bukan Malaysia. Sudah agak basi emang, topik tentang tingkah mereka mendaftarkan paten untuk beberapa item yang jelas-jelas dikenal orang sebagai produk asli Indonesia. Sekarang, lo ga bisa bangga lagi make batik dan makan rendang, karena secara hukum itu sudah didaftarkan patennya atas nama Malaysia. Tentunya masih ingat kasus lagu ‘Rasa Sayange’ yang dijiplak secara sempurna, hanya bertukar lirik sedikit, dan dengan jumawa dijadikan jingle iklan pariwisata mereka kan? Dan juga beberapa hari yang lalu di surat kabar lokal Sumbar saya membaca ada lagu lokal sini yang coba-coba dimainkan dan diperkenalkan sebagai lagu mereka. Tengik banget.
Tapi, alih-alih saya mau memaparkan hujatan saya disini, walau sebenarnya sudah sangat pantas juga dengan segala aksi tercela mereka, saya justru melihatnya sebagai kelalaian kita sendiri. Teledor. Terlalu suka menganggap remeh karya sendiri. Tidak pernah memikirkan kemungkinan kalau bisa saja suatu waktu semua hasil karya kita dicaplok orang lain. Tidak ada semangat menghargai buatan anak bangsa, yang tentunya cara amannnya adalah dengan mendaftarkan hak ciptanya. Ketika ada kejadian tetangga rese ngeganggu, baru gelagapan. Baru mulai sibuk mendaftar ulang, dari lagu sampai makanan. Tentunya sambil ngutuk2 Malaysianya, ada wacana ajak perang segala. To be honest, tingkah negara yang dikit-dikit kalo ada masalah selalu mengedepankan idiom ‘kita ini negara serumpun’ emang tengil banget, ngeselin. Enak diajak berantem. Tapi adalah lebih brengsek lagi para petinggi dan pejabat berwenang untuk masalah ini. Ketauan kalau mereka sama sekali tidak bertugas dengan semestinya, melindungi hasil cipta bangsa, dan baru sibuk ketika semua mewartakannya. Ibarat di situ kebelet buang air besar, disitu pulalah baru gali lobang (dan siapa juga hari gini mesti nyangkul tanah dulu buat pup?). Kelakuan negara sebelah, yang bahkan lagu kebangsaannya aja nyontek, atau lebih tepat dikatakan nyomot salah satu lagu lawas kita (tebak sendiri!), ya sudah kita anggap sebagai cacat bangsa mereka aja. Kita tugasnya berdaulat aja sendiri. Pagarin diri sendiri.
Kabar kedua, tentang bebasnya Adelin Lis, raja illegal logging dari Medan (sementara Poltak adalah raja minyaknya!). Preseden buruk buat ke depannya. Cocoknya mah dichainsaw juga ini orang, sama kayak hutan-hutan yang dibabatnya. Saya gak munafik, saya pernah bekerja di lingkungan perusahaan pembabat hutan. Saya nikmatin uangnya. Tapi justru disitu pulalah saya miris sendiri melihat begitu bertubinya hutan dibabat untuk keperluan produksi, dengan usaha penghijauan kembali yang timpang banget. Saya miris setiap melewati daerah penumpukan bahan baku kayu, yang kurang lebih setinggi 5 meter di kiri kanan lo dan membentuk labirin membingungkan. It’s all woods over there! Gimana Riau gak gundul hutannya? Gimana lo ngga makin merasa kalo belakangan udara makin tambah panas, dan musim jadi gak jelas juntrungannya? Dan sekarang, ketika salah satu cukong gedenya ketangkap, eh malah bebas lagi. Oooh nasib. Gimana mau nangkap yang lebih gede, kaya mantan bos besar saya?
Tadi malam, sebelum menghabiskan energi dengan cara klasik seorang pecandu bola tingkat gawat, saya berkurung diri di kamar, menyampaikan salam ke ibu saya yang tepat setahun kemarin pergi. Biasalah, Yasinan. Semoga jadi peneman yang baik bagi beliau di alam sana…