Stigma
Friday, January 4th, 2008Jahowu!
Tanpa ada sebab, saya dua hari yang lalu dengan semangat iseng membaca Sabili. Itu loh, majalah mini seukuran Intisari yang sangat bernafaskan Islam dalam segenap redaksinya. Saya bukan fans berat majalah ini, tapi juga sekaligus bukan pembencinya.
Yang bikin saya jadi membahas majalah ini adalah di edisi yang saya baca itu ada ulasan tentang fenomena pemakaian drugs di kalangan musisi (di sini tampaknya ditekankan pada rocker), dan apakah boleh generasi muda Islam tetap menjadikan para musisi dengan masalah drugs ini sebagai idola mereka, atau dijauhi saja? Juga lebih lanjut dibahas tentang korelasi antara rocker dengan kegiatan satanisme seperti gemar dengan angka setan (666), kesukaan menyembelih binatang di panggung dan meminum darahnya, kegiatan seksual bebas-aktif-super cabul, apa lagi ya? Lupa saya detilnya. Yah, sebenarnya lumayan basi sih hal ini. Dan Sabili membahasnya dengan semangat menjauhkan anak muda dari ‘hal-hal sedemikian’. Yeah, right. Bahwasanya, dengan mendengarkan musik (apalagi rock), maka akan membawa anak-anak bangsa ke lembah kezaliman. Oh, comee oon.
Di sinilah letak kenapa saya kadang tidak suka membaca apapun yang bersifat terlalu men-judge. OK, saya sepakat dengan pernyataan kalau hal negatif di atas adalah salah, dan jangan diikuti. Tapi saya sama sekali tidak mengerti dengan ajakan agar sekalian saja di anggap bahwa musik rock itulah penyebab timbulnya segala kelakuan miring tersebut. Sepertinya majalah ini mengedepankan emosi, dan bukan riset dalam menulis sebuah artikel. Tidak ada saya baca sudut pandang dari pihak yang dikecam dalam tulisan tersebut. Semuanya dari kaca mata sepihak. Ayolah, teman. Kalau acuan lo adalah kelakuan Ozzy Osborne menenggak darah kelelawar, Slipknot dengan pajangan kepala kambing dan angka favorit 666, dan Judas Priest dengan lirik bertema ajakan suicidal, maka lo berkaca mata kuda. Tolong dimafhumi juga kalau semuanya hanya dilakukan atas nama mencari sensasi, dan bukan untuk menggurui/mengajak fans berbuat hal sama. Adalah berpulang ke para penikmat musik itu: apakah menganggap para artis ini layaknya nabi dan kitab suci, atau sekedar seni untuk dinikmati tanpa ada tendensi untuk mengikuti. Kalau segenap kelakuan mereka lo anggap konyol tapi musiknya lo senangi, it’s totally fine. Nikmati saja musiknya, acuhkan perangainya.
Pencinta musik rock identik dengan drugs? Satu lagi contoh stigma yang semena-mena. Tidak mesti musisi (atau musisi rock), anggota DPR atau aparat ABRI juga banyak yang make kok. Aktifitas seks bebas? Banyak, bisa lo liat dari kasus guru ngaji mencabuli muridnya atau pastor dengan paroki kecilnya. Belum lagi kasus selewengan sana-sini dari oknum pejabat. Saya bisa yakin, kalau rata-rata dari mereka tidak, atau tidak begitu fanatik, mendengarkan rock. Terus dari mana penyebab mereka melakukan hal itu? Ya mental mereka sendiri. Iman mereka sendiri.
Saya muak dengan tipikal pen-cap-an seperti ini. Saya sendiri, yang suka dimintai hasil unduhan irama metal yang sangat saya gemari seperti bagian dari sumsum tulang belakang sendiri, bahkan tidak menyukai asap rokok atau mengisapnya. Perihal teman-teman saya para perokok, ya itu masalah adaptasi kan? Saya tidak pernah menginstal setetespun alkohol ke badan saya, walaupun tidak serta-merta saya mengklaim sebagai penganut straight-edge, karena toh saya melakukan hal ini tidak untuk menjadi bagian dari gerakan apapun, selain karena memang dasarnya saya tidak suka aja. Hanya karena saya penggemar rock, dengan metal sebagai turunannya, sama sekali tidak membuat saya merubah prinsip itu.
Jangan terbiasa mengadili sepihak. Jangan suka bersikap represif hanya karena kita mayoritas. Act balance and fair. Bakar tikusnya, bukan lumbungnya.