InvasiCengeng
Wednesday, June 11th, 2008Fuck Ahmadiyah!
Eh, halo. Udah lama gak nulis ini. Terjebak siklus tidur cepat dan bangun lambat membuat badan melendung gak keruan, kompensasi yg tepat untuk mengimbangi kesuntukan pikiran menghadapi masalah di keluarga saya.
Saya baru dapat tetangga kos baru, rata-rata masih tahun 1 atau tahun 2 kuliah gitulah. Fresh dan brondong. Sebagai orang yg termasuk kategori autis ketika sudah berada di kamar sendiri, sambutan saya cukup hangat ketika mereka bersilaturahmi. Overall, kelakuan mereka masih wajar untuk ukuran anak-anak cowok : maen gitar ampe malam, ribut-gaduh-brisik, sibuk adu tanding kenceng-kencengan merokok dan menghabiskan rokok sesama teman. Yang gak saya suka adalah habit mereka nyampah sembarangan. Tapi yg paling membuat saya nelangsa adalah kegemaran mereka akan lagu-lagu cengeng band-band kontemporer Indonesia, dan sekaligus memutarnya keras-keras.
Angkatan tua pasti masih ingat ketika musik Indonesia diinvasi zaman cengeng, dimana pendekarnya adalah semacam Rinto Harahap, kang jereng Deddy Dores, bung Pance Pondaag. Penyanyinya? Selain mereka tentu saja deretan penyanyi semacam Endang S. Taurina, Ratih Purwasih, Meriem Bellina, Tommy J. Pisa (uhuk!) dan segambreng lainnya. Tema lagunya gak bakal jauh-jauh dari pedihnya perpisahan dan pahitnya putus cinta, sementara tema lagu yang ceriaan cukup dangkal seperti bus sekolah Richie Ricardo gitulah. Sebegitu parahnya, ampe saya ingat banget bahwa hanya sedikit artis di luar jalur itu yang bertahan di era tersebut, layaknya Iwan Fals dan Fariz RM to mention any names. Saya, karena masih kecil, tentunya otomatis merasa bahwa itulah yg paling keren, paling cool, paling hype. Bahkan lirik lagu Maria-nya Tommy J. Pisa masih hafal ampe sekarang (entah ini cacat atau anugrah).
Dan seperti de ja vu, saya merasakan invasi kedua musik cengeng ketika mendengar band-band kontemporer yg digilai tetangga-tetangga baru saya ini. Satu sama lain mirip, rintihan patah hati, rindu yg menggelora, ampe pernyataan cinta yg bombastis abis. Musik mendayu-dayu, walau dibawakan dalam format band sebagai pembeda dari era pendahulunya. Vokal mengiba-iba, dengan mudah dapat ditukar dengan erangan "om kasian om, lapeer om" milik peminta-minta terminal. Demikian sedihnya, sampai saya yakin para personel band ini akan menyayat nadi mereka hanya karena kekasihnya pergi belanja sebentar. Hati mereka amat rapuh, tidak bisa "sendiri di sini tanpamu" dan selalu berharap "kau selalu tempati ruang hatiku". Dan saya muntah paku.
Bukan, saya tidak mengatakan selera musik saya yang paling bagus. Selera tidak bisa diatur, karena ada pasarnya. Pertanyaannya adalah : haruskah pasar selalu diikuti? Meminjam perkataan di kaus personel Efek Rumah Kaca di Rolling Stone Private Party Mei lalu, pasar sebenarnya bisa diciptakan. Itu seharusnya tugas jajaran A&R label rekaman Indonesia, menciptakan artis/band baru yg betul-betul fresh. Ini tidak. Begitu Warner dengan suksesnya merekrut Kangen Bitch berdasarkan pangsa pasar kaset bajakan mereka yg laku keras di daerah asal, eh berbondong-bondonglah para major label yg lain merilis album sejenis, sampai akhirnya banyak banget band dengan nama antah-berantah beredar dan anehnya digilai pula. Emang dasar mental melayu. Musik macam begini ini yg kalo di zaman bung Karno disebut ngak-ngik-ngok. Malu-maluin orang musik Indonesia yg lainnya, yg susah-payah berusaha menjaga mutu musik mereka. Ini mungkin karena saya liatnya di daerah, tapi gak juga, di ibukota sekalipun penggemarnya juga banyak, jadi faktor geografis menjadi nihil disini. Efek paling kental ya itu tadi, para generasi muda sekarang merasa itulah yg paling cool, paling OK, paling hype, persis seperti yg saya rasakan dulu; bedanya saya tidak meneruskan kegemaran itu (dan semoga mereka juga tidak, ntar di masa dewasanya). Jangan sampailah. Dan semoga ini hanya sesaat, euforia sekilas pasar, dan untuk kemudian seleksi alam terjadi dan mereka binasa selamanya. Amiiin.
Over and out.