Archive for July, 2008

VivaCycling!

Monday, July 21st, 2008

  Menjadi manusia yang kepingin sedikit menyumbang untuk bumi lebih bersih emang berat. Beberapa hari belakangan, setelah hampir 8 tahun gak pernah lagi, saya mulai mengayuh sepeda mengarungi kota. Apa yg saya dapatin? Ngos-ngosan dan paha rasanya pengen diamputasi aja saking pegelnya huhuhu.

  Di Padang sini komunitas sepeda belum terlalu hype. Paling hanya ada pas malam minggu, yaitu rombongan sepeda ontel dengan dandanan ala demang dan bedinde, keliling pantai. Tapi yang eksklusif selalu bersepeda dalam setiap kegiatan, selain pengasong koran dan tukang jamu, mungkin belum ada. Bike to Work? Belum terlalu menjamur, atau malah belum ada kali. Jajaran Polisi di Bukittinggi sudah mulai bersepeda, walau bisa saya bayangin betapa beratnya mengejar pelaku kejahatan dengan mengayuh sepeda, sekalipun itu bermerk Polygon tipe paling keren sekalipun. Gile, daerahnya naik turun. Bisa turun biji tuh aparat.

  Nah, kalo di Padang emang daerahnya landai aja, pemandangan juga cakep (bersepedalah di pantai, jangan di pasar, ga bakal ada juga yg cakep di situ). Cuman ya itu halangannya. Matahari di sini ada 35 buah, dan bukan yg bisa jadi tempat belanja itu loh. Kata lainnya : panas, really hot. Perlu sun-block buatan NASA kalo mau menjelajahi kota dengan kendaraan terbuka dengan kulit tetep putih seperti sediakala. Yg ada, kita bakal sehitam pembantu bajak laut di komik Asterix yg kerjaannya memantau kapal musuh datang dari tiang layar itu. Ireng abis. Belum ngomongin stamina ya. Dan juga, hanya pengendara sepeda sejati sekaligus pencari pemandangan indah yg fanatik yg mau mendayung sepedanya ke arah Bungus, in case kalau mau liat pemandangan pantai dari view yg berbeda. Nasib lo akan sama dengan aparat di Bukittinggi tadi huhuhu. Saya sendiri beraninya bersepeda dengan kondisi :

  - pagi hari, dan jam 9 itu sudah tidak pagi di sini
  - sore hari. Harap perhatikan kalo yg bener-bener sore tuh jam 4.30, kalo sebelum itu mah masih siang bolong
  - malam hari. Perlu mata yg jeli, karena angkot disini masih keturunan Tsar Nicholas II a.k.a gak kenal budaya, slonong sana-sini. Ketabrak Porsche sih masih keren, tapi kalo ketabrak oplet butut jurusan Ampang-Pasar Raya?
- di situasi ketiganya, tetapi dengan kondisi abis ujan. Mendung juga boleh,tapi tentu nggak banget kalo disambung dengan bersepeda maen ujan (ditambah lagi bawa laptop). Itu sama kayak boker duduk di WC jongkok : basah dan berat!

  Nah, sekedar tambahan, kalo memilih naek bus kota, paling apes kalo situasinya begini nih :

  - gak dapet tempat duduk, yg akan diperparah dengan
  - berhimpitan dengan segerombolan pelajar SMP baru kelar pelajaran olahraga. Yg pasti bukan bau kencur yg kehirup. Kondisi makin buruk kalau
  - supir bus punya kefanatikan terhadap Kangen Band/Wali/Angkasa/Merpati dan band taek bison lainnya; dan memutar mp3 bajakan mereka sekeras mungkin dan darah keluar dari kuping kita. Akan mencapai klimakslah penderitaan kita kalau
  - 7-8 orang bertato naek bus barengan, separuh dari depan separuh dari belakang; dan mulai memaenkan taktik menggertak-beraninya-karena-rame-plus-bawa-piso doang. Selamat dari bus itu, maka anda akan memikirkan untuk taubatan nasuha, kalo-kalo ada dosa 10 turunan yg terbeban di pundak kita.

   Makanya, terkadang serba salah menjadi pemuja kondisi bebas arang karbon :D

  Cheers!