Archive for August, 2008

NotInCaseThatI’mANihilist

Monday, August 25th, 2008

  There are way too many subjects, opinions, circumstances, avenues
and other things to consider before anyone in their right mind could
ever give you one sided view on what they think about whatever they
think. But I feel that in itself is the issue. When is it okay to really express how you feel regardless of the “emotions” that could possibly be instilled in other people?

  It’s a huge problem that people are unable to separate themselves
from the outside world. Your only real home is in your mind. Only you
can decide for yourself what is in your best interests whether it’s the
music you like, the clothes you wear, or the girl or guy you wanna marry with.
No one is going to make up your mind for you. Where you want to be in
life or where you are going to be is only where you’re going to put
yourself.

    We are all only given so much time here, if you take a second to
think about it. Literally, every single breath you take could be your
last — which brings me back to my point. When and how does anyone have
the time to care what another person thinks about anything.
Music reviews, movie reviews — critics are truly the most unimportant
and pretentious people out there. Are you really going to be concerned
with what I think about censorship? Technology? The music industry? Any
opinion I’d have would be completely contrived… it would hold no merit.
All in all, anything anyone ever says or does means nothing. And that’s
the truth.

  In this world you can only live each moment for yourself and the
ones you love. Nothing else matters. I don’t want to come off as a
nihilist. I, for one, embrace the idea of beauty, art, love,
friendship. But all the bullshit people “think” they stand for means
absolutely nothing. I implore you to create something, to leave
something behind in this world that means something to you, not to
someone else, not for someone else to decide whether or not what you
did is valuable or meaningful. Just do it to show that you were alive
and that you did something before you ever tasted your last breath.

 
Live for you. And only you.

TanahKelahiran

Friday, August 22nd, 2008

Howdy!

Sudah sepekan berada di tanah kelahiran. Sajian penuh gizi selalu tersedia setiap hari, tanpa perlu pusing mesti keluar rumah untuk pergi mau cari makan apa. Huaah, khasiat kembali berada di tengah keluarga emang manjur untuk menambah bobot. Belum upaya sukses meracuni Haikal, si ponakan tengah dari mas saya nomor satu, untuk mulai rajin menyimak kumpulan klip live at Download Fest ‘07 saya, dan sangat gandrung dengan tampilan Chimaira dan Lamb of God. WUAHAHAHA. Ayolah ponakanku, mari gandeng tangan om-mu menuju gerbang kemaslahatan musik metal, tinggalkan segenap pengetahuan Wali, Matta dan ST12-mu itu. Musik itu hanya akan membawamu paling banter menjadi penyedot septic tank, nak.

  Tak lupa menjelajah kota. Untuk diketahui, ini kota namanya Rantauprapat. Ini ibu kota dari kabupaten Labuhan Batu, Sumatera Utara. Barang siapa melakukan perjalanan darat  dari Medan menuju  Pekanbaru, maka  sudah pasti  akan melewati  kota ini, kecuali rela ambil rute mabok via Danau Toba yang lama perjalanannya dipastikan akan menghisap setengah nyawa kalian.  Ini kota terkenal sebagai kota lintas, dan menawarkan komoditi perkebunan sebagai data tarik investasi utama. Kelapa sawit ataupun karet. Pariwisata? Nothing, kecuali kalau maen air di kali butek pake ban dalem truk udah bisa dianggap refreshing. Jadilah penduduk wilayah ini kaya materi, tapi miskin hiburan. Kalau weekend, bisa dipastikan gerbong-gerbong KA Eksekutif tujuan Medan akan dipenuhi para kaum hedon setempat, rela menghabiskan waktu sembilan jam PP untuk menyalurkan hasrat belanja maupun hiburan. Ibaratnya, lo buka minimarket sekelas Indomaret aja, dipastikan jadi tempat nongkrong dah di pelatarannya. Supermarket setaraf Suzuya aja, yang gak bakal bunyi kalau diletakin di Jakarta, di sini padetnya bukan maen, every single day. Cuacanya panas. Logat penduduknya khas, sedikit mengayun ala Melayu tapi dengan intonasi keras tujuh desibel versi Batak. Bagi yang berjiwa lembut, berasal dari Kraton Surakarta misalnya (ironically, that’s me for real :D) akan selalu merasa diajak berantem kalo udah di sini, ataupun wilayah Sumut lainnya. Well, sebenarnya ciri khas Sumatera pada umumnya sih.

  Malesnya, penyakit standar birokrasi kekinian juga menyerbu Labuhan Batu. Wacana pemekaran wilayah. Kabupaten ini udah dibagi tiga ternyata, jadi Labuhan Batu, Labuhan Batu Utara, dan Labuhan Batu Selatan.  Saya gak pernah cocok dengan ide pemekaran, entah kenapa. Hanya akan menimbulkan cost baru untuk segala pengadaan infrastruktur kabupaten baru, kayak kantor Bupati dsb. Manfaatnya? Biasanya wilayah pemekaran akan segera makmur karena mereka yakin dengan aset wilayahnya, contohnya Kutai Kartanegara. Selebihnya hanya seperti agenda terselubung untuk bagi-bagi kue kekuasaan. Makin banyaklah proses Pilkada (something sounds democratic at first, but here in Indonesia it turns to be an obligatory shit)  yang harus dilalui, yang jarang banget aman-aman aja dalam pelaksanaannya. Mana dua kabupaten hasil pemekaran Labuhan Batu ini ya biasa-biasa aja asetnya, tawarannya sama aja, perkebunan lagi perkebunan lagi. Jadi buat apa pemekaran?

  Hahaha. Stress sendiri mikir ginian. Mending saya mulai men-toxic Nezad, keponakan bungsu yang baru genap setahun. Syukur-syukur dia jadi demen Suicide Silence, WUAHAHAHA.

  Bersulang.

 

1

Wednesday, August 20th, 2008

Am i the one who stuck out in the crowd?
Whispering in a half-shout loud?
Riding the train to the nearest proud
But even left only by a tiny doubt

Farewell, son, farewell
Welcome to this bittersweet cell
Which you may spell
On your own way to hell