TanahKelahiran
Howdy!
Sudah sepekan berada di tanah kelahiran. Sajian penuh gizi selalu tersedia setiap hari, tanpa perlu pusing mesti keluar rumah untuk pergi mau cari makan apa. Huaah, khasiat kembali berada di tengah keluarga emang manjur untuk menambah bobot. Belum upaya sukses meracuni Haikal, si ponakan tengah dari mas saya nomor satu, untuk mulai rajin menyimak kumpulan klip live at Download Fest ‘07 saya, dan sangat gandrung dengan tampilan Chimaira dan Lamb of God. WUAHAHAHA. Ayolah ponakanku, mari gandeng tangan om-mu menuju gerbang kemaslahatan musik metal, tinggalkan segenap pengetahuan Wali, Matta dan ST12-mu itu. Musik itu hanya akan membawamu paling banter menjadi penyedot septic tank, nak.
Tak lupa menjelajah kota. Untuk diketahui, ini kota namanya Rantauprapat. Ini ibu kota dari kabupaten Labuhan Batu, Sumatera Utara. Barang siapa melakukan perjalanan darat dari Medan menuju Pekanbaru, maka sudah pasti akan melewati kota ini, kecuali rela ambil rute mabok via Danau Toba yang lama perjalanannya dipastikan akan menghisap setengah nyawa kalian. Ini kota terkenal sebagai kota lintas, dan menawarkan komoditi perkebunan sebagai data tarik investasi utama. Kelapa sawit ataupun karet. Pariwisata? Nothing, kecuali kalau maen air di kali butek pake ban dalem truk udah bisa dianggap refreshing. Jadilah penduduk wilayah ini kaya materi, tapi miskin hiburan. Kalau weekend, bisa dipastikan gerbong-gerbong KA Eksekutif tujuan Medan akan dipenuhi para kaum hedon setempat, rela menghabiskan waktu sembilan jam PP untuk menyalurkan hasrat belanja maupun hiburan. Ibaratnya, lo buka minimarket sekelas Indomaret aja, dipastikan jadi tempat nongkrong dah di pelatarannya. Supermarket setaraf Suzuya aja, yang gak bakal bunyi kalau diletakin di Jakarta, di sini padetnya bukan maen, every single day. Cuacanya panas. Logat penduduknya khas, sedikit mengayun ala Melayu tapi dengan intonasi keras tujuh desibel versi Batak. Bagi yang berjiwa lembut, berasal dari Kraton Surakarta misalnya (ironically, that’s me for real :D) akan selalu merasa diajak berantem kalo udah di sini, ataupun wilayah Sumut lainnya. Well, sebenarnya ciri khas Sumatera pada umumnya sih.
Malesnya, penyakit standar birokrasi kekinian juga menyerbu Labuhan Batu. Wacana pemekaran wilayah. Kabupaten ini udah dibagi tiga ternyata, jadi Labuhan Batu, Labuhan Batu Utara, dan Labuhan Batu Selatan. Saya gak pernah cocok dengan ide pemekaran, entah kenapa. Hanya akan menimbulkan cost baru untuk segala pengadaan infrastruktur kabupaten baru, kayak kantor Bupati dsb. Manfaatnya? Biasanya wilayah pemekaran akan segera makmur karena mereka yakin dengan aset wilayahnya, contohnya Kutai Kartanegara. Selebihnya hanya seperti agenda terselubung untuk bagi-bagi kue kekuasaan. Makin banyaklah proses Pilkada (something sounds democratic at first, but here in Indonesia it turns to be an obligatory shit) yang harus dilalui, yang jarang banget aman-aman aja dalam pelaksanaannya. Mana dua kabupaten hasil pemekaran Labuhan Batu ini ya biasa-biasa aja asetnya, tawarannya sama aja, perkebunan lagi perkebunan lagi. Jadi buat apa pemekaran?
Hahaha. Stress sendiri mikir ginian. Mending saya mulai men-toxic Nezad, keponakan bungsu yang baru genap setahun. Syukur-syukur dia jadi demen Suicide Silence, WUAHAHAHA.
Bersulang.