ReviewAILDConcert
Berdiri agak ke pinggir untuk rehat sejenak, di depan sana As I Lay Dying sedang membawakan ‘Forever’. Lagu yg tepat untuk ber-sing along ria dan cukup untuk headbanging di tempat. Terlibat di pusaran moshing yg brutal dan lingkaran circle pit yg terus berlanjut akan sangat menghabiskan energi, kalo dilakukan terus menerus sepanjang konser. Biar terlihat ganas, sebenarnya massa ini amatlah santun. Kalo emang ga mau body contact, berarti jangan ke tengah. Kalo memutuskan terlibat, berarti emosi jangan ikutan. Siapa yg jatuh harap dibantu, tak lupa angkat tinggi sepatu teman yg terlepas karena saking bersemangatnya moshing. Perilaku peduli teman yg mungkin bisa jadi gak bisa ditemukan di konser musik lembut, atau musik lelembut, dimana yg ada hanyalah lautan HP berteknologi tinggi yg sibuk merekam setiap detik dari momen yg ada di depan. Apakah anda sedang menonton pertunjukan live, atau fokus pada usaha mendapatkan pertunjukan konser untuk di rewind? Coba pilih salah satu, anda sudah keluar banyak uang untuk itu. Atau emang dasar tabiat orang gak mau rugi kali ya. Saya rasa kita sepakat kalo kita sedang berada di tengah pertunjukan musik hidup, bukannya pameran HP berkamera.
Cuman, momen yg saya lihat itu sedikit banyaknya didukung oleh fakta tersaringnya penonton AILD dengan harga tiket yg cukup mahal, dengan penjagaan ketat sehingga substansi-substansi memabukkan tidak ada yg lolos ke dalam venue, sesuatu yg sering menjadi pemicu keributan, ataupun kerusuhan yg bisa berujung ke munculnya korban. Kebrutalan yg muncul di tengah moshpit murni having fun, seperti segerombolan anak-anak berkaos hitam yg memiliki cara aneh untuk berolahraga. Memar-memar sudah biasa. Buat yg berkacamata, yakinkan diri anda bahwa posisi si alat bantu penglihatan sudah mantap untuk menemani jenis olahraga yg satu ini. Jatuh hancur terpijak tanggung sendiri.
Burgerkill membuka malam dengan tujuh tembang menggerinda, dengan dua di antaranya sepertinya materi baru buat album mereka berikutnya. Lagu pamungkas adalah ‘Atur Aku’,dibawakan dengan rapinya di bawah tatapan si pencipta lagu asli yg duduk di tribun, mungkin keki dengan fakta bahwa lagunya ternyata bisa menjadi lebih ’setan’ dari aslinya. Huhuhu.
Saya tidak menghitung berapa lagu dibawakan AILD tadi malam. Belasan begitulah. Bagaimana mungkin bisa konsen menghitung berapa lagu yg dibawakan, ketika sepanjang konser kita seperti kerasukan jin aneh yg memaksa kita berhead-banging terus-terusan? Lagu-lagu lawas yg dibawakan ada beberapa, yg saya ingat ada ‘Through Struggle’ ama ‘Illusion’. Too bad, ‘94 Hours’ tidak dibawakan. Sesuai judul turnya, kebanyakan lagu diambil dari album terakhir mereka, An Ocean Between Us. Eben dari BK bermoshing ria tepat di sebelah saya. Gitaris Pain Killer yg jelita berdiri agak di tengah,tentunya keikut sertaan dia untuk moshing hanya akan menimbulkan euforia,jadi sepertinya dia hanya bisa menahan diri saja dengan sesekali headbang, hehehe.
Hail Solucite! Can’t hardly wait for 090309,when the pure American Metal warrior is coming to town. See you all at Lamb Of God’s pit!
November 30th, 2008 at 11:28 pm
terbukti band sebesar as i lay dying punya mental segede gajah ketimbang band2 yang kecut karena travel warning termasuk kasus fred dust dulu,apalagi pake acara nembus brikade demonstran anti pmerintah di bangkok ,hebaaatttt,mereka bakal inget kalo diindonesia itu panggung paling liar,tanya saja lars ulrich yang pernah main sekali seumur hidup di indonesia dan gak akan lupakan negeri satu ini,paling gak ada tiga negara yang wajib disantroni sebuah band sebelum menjadi legenda yaitu MOSCOW,BRAZIL dan INDONESIA
nb. asli iri gw broo,tapi next time gw pasti datang ntuk moshpit dengan lo