Bdg,24Jan2009

Hidup tidaklah selalu linear. Paling tidak, Efek Rumah Kaca akan setuju dengan pernyataan itu, dan tentunya saya juga. Tidak akan ada yang bisa menebak alur hidup kita tanpa menjalaninya lebih dulu, tidak juga that fuckin witch Mama Lauren dengan semua liur propaganda cenayangisasinya. Hidup-mati-jodoh-rezeki sudah ada ketetapannya, tepat ketika roh ditiupkan ke ubun-ubun masing masing dari kita dan disusul oekan bayi pertama.

Saya pribadi bingung juga dengan perjalanan hidup saya, terutama dalam 10 tahun terakhir. Profesi yang pernah saya jalani persis seperti minuman tutty-frutty : rame. Pernah jadi resepsionis hotel. Pernah jadi staff permit and license buat ekspatriat. Pernah ngelanjutin sekolah ke jenjang berikutnya (dan sampai kata ‘pernah’ saja barangkali). Dan tiba-tiba saja, saya bisa berbelok ke dunia yang asli tidak pernah saja bayangkan sebelumnya. Penerbangan. OK, saya tentunya bukan bagian yang terbangnya, sehubungan umur yang sudah tidak kapabel untuk menjadi crew on-flight apapun. Perusahaan saya lebih fokus ke ground handling servicesnya. Bermula sebagai seorang staff dokumen penerbangan, nasib menuntun  saya direkrut menjadi seorang Load Controller. Pekerjaan cukup rumit yang tentunya gak kan ada sambung-menyambungnya dengan teori Shakespeare dan segenap karya Hamlet, yang menjadi latar belakang pendidikan. Balik ke pernyataan di paragraf pertama, jangankan orang, saya sendiri merasa aneh dengan arah terbaru hidup saya ini.

As wise man say ” stay through the path”

Saya akan coba jalani saja alur ini. Ikuti arah angin, arungi riak yang ada. Rencana Tuhan tidak ada yang tahu.

Well, sambil sok error begini, saya lagi nunggu-nunggu hari Minggu tanggal 25 Jan besok nih. Menyaksikan live concert Pure Saturday untuk pertama kalinya di kota asal si band. Sebagai seorang jemaah metal yang taat, saya tetap tidak bisa menepis sosok mereka sebagai salah satu musical heroes buat perkembangan selera musik pribadi. Saya sering sekali, di kala SMP dulu, ber- ‘air guitar’ akustik di depan cermin sambil komat-kamit mengiringi alunan lagu “Kosong” dari tape Polytron buluk kebanggan keluarga. Hail PS, one of the leader of Indonesian indies movement! Mereka bisa membuat lagu pop tentang cinta  yang baik dan benar tanpa perlu menjadi cengeng, seperti layaknya semua band pop cowok kekinian yang pantas diragukan jenis kelaminnya.

Horas.

Leave a Reply