VivaCycling!

July 21st, 2008 by dheemuz

  Menjadi manusia yang kepingin sedikit menyumbang untuk bumi lebih bersih emang berat. Beberapa hari belakangan, setelah hampir 8 tahun gak pernah lagi, saya mulai mengayuh sepeda mengarungi kota. Apa yg saya dapatin? Ngos-ngosan dan paha rasanya pengen diamputasi aja saking pegelnya huhuhu.

  Di Padang sini komunitas sepeda belum terlalu hype. Paling hanya ada pas malam minggu, yaitu rombongan sepeda ontel dengan dandanan ala demang dan bedinde, keliling pantai. Tapi yang eksklusif selalu bersepeda dalam setiap kegiatan, selain pengasong koran dan tukang jamu, mungkin belum ada. Bike to Work? Belum terlalu menjamur, atau malah belum ada kali. Jajaran Polisi di Bukittinggi sudah mulai bersepeda, walau bisa saya bayangin betapa beratnya mengejar pelaku kejahatan dengan mengayuh sepeda, sekalipun itu bermerk Polygon tipe paling keren sekalipun. Gile, daerahnya naik turun. Bisa turun biji tuh aparat.

  Nah, kalo di Padang emang daerahnya landai aja, pemandangan juga cakep (bersepedalah di pantai, jangan di pasar, ga bakal ada juga yg cakep di situ). Cuman ya itu halangannya. Matahari di sini ada 35 buah, dan bukan yg bisa jadi tempat belanja itu loh. Kata lainnya : panas, really hot. Perlu sun-block buatan NASA kalo mau menjelajahi kota dengan kendaraan terbuka dengan kulit tetep putih seperti sediakala. Yg ada, kita bakal sehitam pembantu bajak laut di komik Asterix yg kerjaannya memantau kapal musuh datang dari tiang layar itu. Ireng abis. Belum ngomongin stamina ya. Dan juga, hanya pengendara sepeda sejati sekaligus pencari pemandangan indah yg fanatik yg mau mendayung sepedanya ke arah Bungus, in case kalau mau liat pemandangan pantai dari view yg berbeda. Nasib lo akan sama dengan aparat di Bukittinggi tadi huhuhu. Saya sendiri beraninya bersepeda dengan kondisi :

  - pagi hari, dan jam 9 itu sudah tidak pagi di sini
  - sore hari. Harap perhatikan kalo yg bener-bener sore tuh jam 4.30, kalo sebelum itu mah masih siang bolong
  - malam hari. Perlu mata yg jeli, karena angkot disini masih keturunan Tsar Nicholas II a.k.a gak kenal budaya, slonong sana-sini. Ketabrak Porsche sih masih keren, tapi kalo ketabrak oplet butut jurusan Ampang-Pasar Raya?
- di situasi ketiganya, tetapi dengan kondisi abis ujan. Mendung juga boleh,tapi tentu nggak banget kalo disambung dengan bersepeda maen ujan (ditambah lagi bawa laptop). Itu sama kayak boker duduk di WC jongkok : basah dan berat!

  Nah, sekedar tambahan, kalo memilih naek bus kota, paling apes kalo situasinya begini nih :

  - gak dapet tempat duduk, yg akan diperparah dengan
  - berhimpitan dengan segerombolan pelajar SMP baru kelar pelajaran olahraga. Yg pasti bukan bau kencur yg kehirup. Kondisi makin buruk kalau
  - supir bus punya kefanatikan terhadap Kangen Band/Wali/Angkasa/Merpati dan band taek bison lainnya; dan memutar mp3 bajakan mereka sekeras mungkin dan darah keluar dari kuping kita. Akan mencapai klimakslah penderitaan kita kalau
  - 7-8 orang bertato naek bus barengan, separuh dari depan separuh dari belakang; dan mulai memaenkan taktik menggertak-beraninya-karena-rame-plus-bawa-piso doang. Selamat dari bus itu, maka anda akan memikirkan untuk taubatan nasuha, kalo-kalo ada dosa 10 turunan yg terbeban di pundak kita.

   Makanya, terkadang serba salah menjadi pemuja kondisi bebas arang karbon :D

  Cheers!

InvasiCengeng

June 11th, 2008 by dheemuz

  Fuck Ahmadiyah!

  Eh, halo. Udah lama gak nulis ini. Terjebak siklus tidur cepat dan bangun lambat membuat badan melendung gak keruan, kompensasi yg tepat untuk mengimbangi kesuntukan pikiran menghadapi masalah di keluarga saya.

  Saya baru dapat tetangga kos baru, rata-rata masih tahun 1 atau tahun 2 kuliah gitulah. Fresh dan brondong. Sebagai orang yg termasuk kategori autis ketika sudah berada di kamar sendiri, sambutan saya cukup hangat ketika mereka bersilaturahmi. Overall, kelakuan mereka masih wajar untuk ukuran anak-anak cowok : maen gitar ampe malam, ribut-gaduh-brisik, sibuk adu tanding kenceng-kencengan merokok dan menghabiskan rokok sesama teman. Yang gak saya suka adalah habit mereka nyampah sembarangan. Tapi yg paling membuat saya nelangsa adalah kegemaran mereka akan lagu-lagu cengeng band-band kontemporer Indonesia, dan sekaligus memutarnya keras-keras.

   Angkatan tua pasti masih ingat ketika musik Indonesia diinvasi zaman cengeng, dimana pendekarnya adalah semacam Rinto Harahap, kang jereng Deddy Dores, bung Pance Pondaag. Penyanyinya? Selain mereka tentu saja deretan penyanyi semacam Endang S. Taurina, Ratih Purwasih, Meriem Bellina, Tommy J. Pisa (uhuk!) dan segambreng lainnya. Tema lagunya gak bakal jauh-jauh dari pedihnya perpisahan dan pahitnya putus cinta, sementara tema lagu yang ceriaan cukup dangkal seperti bus sekolah Richie Ricardo gitulah. Sebegitu parahnya, ampe saya ingat banget bahwa hanya sedikit artis di luar jalur itu yang bertahan di era tersebut, layaknya Iwan Fals dan Fariz RM to mention any names. Saya, karena masih kecil, tentunya otomatis merasa bahwa itulah yg paling keren, paling cool, paling hype. Bahkan lirik lagu Maria-nya Tommy J. Pisa masih hafal ampe sekarang (entah ini cacat atau anugrah).

   Dan seperti de ja vu, saya merasakan invasi kedua musik cengeng ketika mendengar band-band kontemporer yg digilai tetangga-tetangga baru saya ini. Satu sama lain mirip, rintihan patah hati, rindu yg menggelora, ampe pernyataan cinta yg bombastis abis. Musik mendayu-dayu, walau dibawakan dalam format band sebagai pembeda dari era pendahulunya. Vokal mengiba-iba, dengan mudah dapat ditukar dengan erangan "om kasian om, lapeer om" milik peminta-minta terminal. Demikian sedihnya, sampai saya yakin para personel band ini akan menyayat nadi mereka hanya karena kekasihnya pergi belanja sebentar. Hati mereka amat rapuh, tidak bisa "sendiri di sini tanpamu" dan selalu berharap "kau selalu tempati ruang hatiku". Dan saya muntah paku.

   Bukan, saya tidak mengatakan selera musik saya yang paling bagus. Selera tidak bisa diatur, karena ada pasarnya. Pertanyaannya adalah : haruskah pasar selalu diikuti? Meminjam perkataan di kaus personel Efek Rumah Kaca di Rolling Stone Private Party Mei lalu, pasar sebenarnya bisa diciptakan. Itu seharusnya tugas jajaran A&R label rekaman Indonesia, menciptakan artis/band baru yg betul-betul fresh. Ini tidak. Begitu Warner dengan suksesnya merekrut Kangen Bitch berdasarkan pangsa pasar kaset bajakan mereka yg laku keras di daerah asal, eh berbondong-bondonglah para major label yg lain merilis album sejenis, sampai akhirnya banyak banget band dengan nama antah-berantah beredar dan anehnya digilai pula. Emang dasar mental melayu. Musik macam begini ini yg kalo di zaman bung Karno disebut ngak-ngik-ngok. Malu-maluin orang musik Indonesia yg lainnya, yg susah-payah berusaha menjaga mutu musik mereka. Ini mungkin karena saya liatnya di daerah, tapi gak juga, di ibukota sekalipun penggemarnya juga banyak, jadi faktor geografis menjadi nihil disini. Efek paling kental ya itu tadi, para generasi muda sekarang merasa itulah yg paling cool, paling OK, paling hype, persis seperti yg saya rasakan dulu; bedanya saya tidak meneruskan kegemaran itu (dan semoga mereka juga tidak, ntar di masa dewasanya). Jangan sampailah. Dan semoga ini hanya sesaat, euforia sekilas pasar, dan untuk kemudian seleksi alam terjadi dan mereka binasa selamanya. Amiiin.

   Over and out.

   

SetengahTiang

February 11th, 2008 by dheemuz

  Mencermati berbagai versi kejadian memilukan yang menimpa teman-teman komunitas UG Bandung pada acara launching album Beside di gedung Asia-Afrika Sabtu (9/2) kemarin, dengan kesaksian via berbagai tulisan di segala macam milis dan site, saya hanya bisa miris membayangkan kalau saya sendiri berada dalam ke-chaos-an itu. Gabungan antara panitia belel, aparat keamanan kampret, paramedis taik kucing dan kelakuan tengil para metalhead yang hadir di situ malam itu menghasilkan 11 nyawa lewat begitu saja.

  Setengah tiang untuk mereka.

  Semoga tidak sampai melunturkan tekad teman-teman komunitas untuk terus stand up menjaga khittah metal. Dan jangan terlalu cepat menilai, wahai kalian media dan khalayak ramai, bahwasanya kejadian kemarin hanya disebabkan oleh satu klausa, hanya karena kalian penggemar hal-hal yang kasat mata. Perbanyak membaca dari berbagai sisi, hilangkan sifat binatang delman yang betah berkaca mata kuda. Jangan karena melihat rekaman footage yang menampilkan massa ber-pogo bagai makhluk bengis, lantas kalian menafsirkan mereka sebagai faktor katarsis peletup tragedi tragis. Percayalah, mereka begitu karena itulah ekspresi kami menikmati musik, sama seperti beberapa kalian yang senang menggoyangkan bokong demi mendengar house music. Karena sebagian dari mereka penikmat miras? Well, segala sesuatu yang berlebihan memang akan membawa serta petaka, dan itu bukan hanya bisa terjadi di sebuah konser metal belaka. Boleh diadulah, banyakan mana substansi memabukkan yang beredar antara scene underground dan diskotik.

  OK, sip? Tarik jabrik!

Stigma

January 4th, 2008 by dheemuz

   Jahowu!

   Tanpa ada sebab, saya dua hari yang lalu dengan semangat iseng membaca Sabili. Itu loh, majalah mini seukuran Intisari yang sangat bernafaskan Islam dalam segenap redaksinya. Saya bukan fans berat majalah ini, tapi juga sekaligus bukan pembencinya.

   Yang bikin saya jadi membahas majalah ini adalah di edisi yang saya baca itu ada ulasan tentang fenomena pemakaian drugs di kalangan musisi (di sini tampaknya ditekankan pada rocker), dan apakah boleh generasi muda Islam tetap menjadikan para musisi dengan masalah drugs ini sebagai idola mereka, atau dijauhi saja? Juga lebih lanjut dibahas tentang korelasi antara rocker dengan kegiatan satanisme seperti  gemar dengan angka setan (666), kesukaan menyembelih binatang di panggung dan meminum darahnya, kegiatan seksual bebas-aktif-super cabul, apa lagi ya? Lupa saya detilnya. Yah, sebenarnya lumayan basi sih hal ini. Dan Sabili membahasnya dengan semangat menjauhkan anak muda dari ‘hal-hal sedemikian’. Yeah, right. Bahwasanya, dengan mendengarkan musik (apalagi rock), maka akan membawa anak-anak bangsa ke lembah kezaliman. Oh, comee oon.

   Di sinilah letak kenapa saya kadang tidak suka membaca apapun yang bersifat terlalu men-judge. OK, saya sepakat dengan pernyataan kalau hal negatif di atas adalah salah, dan jangan diikuti. Tapi saya sama sekali tidak mengerti dengan ajakan agar sekalian saja di anggap bahwa musik rock itulah penyebab timbulnya segala kelakuan miring tersebut. Sepertinya majalah ini mengedepankan emosi, dan bukan riset dalam menulis sebuah artikel. Tidak ada saya baca sudut pandang dari pihak yang dikecam dalam tulisan tersebut. Semuanya dari kaca mata sepihak. Ayolah, teman. Kalau acuan lo adalah kelakuan Ozzy Osborne menenggak darah kelelawar, Slipknot dengan pajangan kepala kambing dan angka favorit 666, dan Judas Priest dengan lirik bertema ajakan suicidal, maka lo berkaca mata kuda. Tolong dimafhumi juga kalau semuanya hanya dilakukan atas nama mencari sensasi, dan bukan untuk menggurui/mengajak fans berbuat hal sama. Adalah berpulang ke para penikmat musik itu: apakah menganggap para artis ini layaknya nabi dan kitab suci, atau sekedar seni untuk dinikmati tanpa ada tendensi untuk mengikuti. Kalau segenap kelakuan mereka lo anggap konyol tapi musiknya lo senangi, it’s totally fine. Nikmati saja musiknya, acuhkan perangainya.

   Pencinta musik rock identik dengan drugs? Satu lagi contoh stigma yang semena-mena. Tidak mesti musisi (atau musisi rock), anggota DPR atau aparat ABRI juga banyak yang make kok. Aktifitas seks bebas? Banyak, bisa lo liat dari kasus guru ngaji mencabuli muridnya atau pastor dengan paroki kecilnya. Belum lagi kasus selewengan sana-sini dari oknum pejabat. Saya bisa yakin, kalau rata-rata dari mereka tidak, atau tidak begitu fanatik, mendengarkan rock. Terus dari mana penyebab mereka melakukan hal itu? Ya mental mereka sendiri. Iman mereka sendiri.

   Saya muak dengan tipikal pen-cap-an seperti ini. Saya sendiri, yang suka dimintai hasil unduhan irama metal yang sangat saya gemari seperti bagian dari sumsum tulang belakang sendiri, bahkan tidak menyukai asap rokok atau mengisapnya. Perihal teman-teman saya para perokok, ya itu masalah adaptasi kan? Saya tidak pernah menginstal setetespun alkohol ke badan saya, walaupun tidak serta-merta saya mengklaim sebagai penganut straight-edge, karena toh saya melakukan hal ini tidak untuk menjadi bagian dari gerakan apapun, selain karena memang dasarnya saya tidak suka aja. Hanya karena saya penggemar rock, dengan metal sebagai turunannya, sama sekali tidak membuat saya merubah prinsip itu.

   Jangan terbiasa mengadili sepihak. Jangan suka bersikap represif hanya karena kita mayoritas. Act balance and fair. Bakar tikusnya, bukan lumbungnya.

   

   
   

Eh,Udah2008Aja!

January 1st, 2008 by dheemuz

   Jahowu!

   Dengan siksaan sound berat Nostalia, progressive deathcore band yg menempel erat di kuping via headphones, saya terduduk di warnet kesayangan baru sekitar kampus yg gitu-gitu aja dari tahun ke tahun.

   Malam terakhir 2007 kemaren, pada kemana kalian? Saya sih anteng saja di Polamas, membakar 2 ekor ayam naas yang secara membabi buta hanya dipotong delapan untuk mendapatkan ukuran yang gigantik buat setiap karnivora yang terlibat. Dipadu padan dengan tupperware ukuran setengah liter yang setia direfresh dengan larutan markisa kental setiap habisnya, dan sebungkus sumpia ayam, dan baju-baju yang dibuka untuk mengelakkan bau asap, jadilah sebuah acara bakar-bakaran yang simpel. Sangat malas untuk menghabiskan malam secara sia-sia di jalanan, hanya untuk menantikan malam biasa di mana yang akan terjadi hanyalah kalender lama yang dibuang untuk diganti kalender tahun berikutnya. Dan seperti juga kebiasaan kami, acara seperti apapun akan selalu diselipin pembicaraan ringan-ke-berat. Kali ini tentang segala macam infotainment yang ngebahas segala macam resolusi para artis/tokoh masyarakat di tahun baru.

  Yang saya bingung, kenapa mesti nunggu momen tahun baru untuk membuat perencanaan? Kenapa harus pake embel-embel ‘New Year Eve’ agar ada pembenaran segala macam planning? For me myself, tahun baru hanya sekedar pertukaran almanak, perhitungan penanggalan Masehi yg jamak dipakai saja. Apa hubungannya ama segenap harapan yang mesti dibikin di awalnya?

  Tidak ada. Muhammad SAW aja, baginda junjungan umat, pernah ngomong kalo bisa hari besok agar lebih baik dari hari ini, dan hari ini lebih baik dari kemaren. Dan itu berlaku untuk tiap hari.

  Mungkin yang diperlukan di saat pertukaran tahun itu adalah kontemplasi ringan, yang tidak jatuh ke tingkat menung-menung gak jelas, sekedar mengingat perjalanan satu tahun sebelumnya. Sudah. Tidak perlu juga ada level penyesalan, karena toh gak bisa juga diulang. Dan pastinya, masih ada yang tertunda di tahun kemaren untuk disambung di tahun berikutnya. Kalo itu aja mah gak perlu penghujung tahun untuk berniat menyelesaikannya. Resolusi bisa dibuat setiap saat, janji untuk lebih baik bisa dibuat setiap hari. New Year Resolution hanya euforia.

Tapi tetap ini hanya pendapat pribadi. Dan berhubung asalnya hanya dari percakapan empat orang bau asap dan bergelimang bumbu ayam bakar, sebaiknya juga jangan merasa tersindir juga ya, karena kami juga toh pas lagi gak nyindir siapa-siapa selain para artis di ghibahtainment. Jadi, yang tersinggung cukup artis! He.

   That’s it.

 

   

SiBawel

November 6th, 2007 by dheemuz

  Ada dua kabar yang masuk kategori ’sucks’ di kuping saya akhir-akhir ini. Pertama adalah tentang kelakuan lancang negara Melayu sebelah yang suka sok enaknya sendiri ama kita. Siapa lagi kalo bukan Malaysia. Sudah agak basi emang, topik tentang tingkah mereka mendaftarkan paten untuk beberapa item yang jelas-jelas dikenal orang sebagai produk asli Indonesia. Sekarang, lo ga bisa bangga lagi make batik dan makan rendang, karena secara hukum itu sudah didaftarkan patennya atas nama Malaysia. Tentunya masih ingat kasus lagu ‘Rasa Sayange’ yang dijiplak secara sempurna, hanya bertukar lirik sedikit, dan dengan jumawa dijadikan jingle iklan pariwisata mereka kan? Dan juga beberapa hari yang lalu di surat kabar lokal Sumbar saya membaca ada lagu lokal sini yang coba-coba dimainkan dan diperkenalkan sebagai lagu mereka. Tengik banget.

   Tapi, alih-alih saya mau memaparkan hujatan saya disini, walau sebenarnya sudah sangat pantas juga dengan segala aksi tercela mereka, saya justru melihatnya sebagai kelalaian kita sendiri. Teledor. Terlalu suka menganggap remeh karya sendiri. Tidak pernah memikirkan kemungkinan kalau bisa saja suatu waktu semua hasil karya kita dicaplok orang lain. Tidak ada semangat menghargai buatan anak bangsa, yang tentunya cara amannnya adalah dengan mendaftarkan hak ciptanya. Ketika ada kejadian tetangga rese ngeganggu, baru gelagapan. Baru mulai sibuk mendaftar ulang, dari lagu sampai makanan. Tentunya sambil ngutuk2 Malaysianya, ada wacana ajak perang segala. To be honest, tingkah negara yang dikit-dikit kalo ada masalah selalu mengedepankan idiom ‘kita ini negara serumpun’ emang tengil banget, ngeselin. Enak diajak berantem. Tapi adalah lebih brengsek lagi para petinggi dan pejabat berwenang untuk masalah ini. Ketauan kalau mereka sama sekali tidak bertugas dengan semestinya, melindungi hasil cipta bangsa, dan baru sibuk ketika semua mewartakannya. Ibarat di situ kebelet buang air besar, disitu pulalah baru gali lobang (dan siapa juga hari gini mesti nyangkul tanah dulu buat pup?). Kelakuan negara sebelah, yang bahkan lagu kebangsaannya aja nyontek, atau lebih tepat dikatakan nyomot salah satu lagu lawas kita (tebak sendiri!), ya sudah kita anggap sebagai cacat bangsa mereka aja. Kita tugasnya berdaulat aja sendiri. Pagarin diri sendiri.

  Kabar kedua, tentang bebasnya Adelin Lis, raja illegal logging dari Medan (sementara Poltak adalah raja minyaknya!). Preseden buruk buat ke depannya. Cocoknya mah dichainsaw juga ini orang, sama kayak hutan-hutan yang dibabatnya. Saya gak munafik, saya pernah bekerja di lingkungan perusahaan pembabat hutan. Saya nikmatin uangnya. Tapi justru disitu pulalah saya miris sendiri melihat begitu bertubinya hutan dibabat untuk keperluan produksi, dengan usaha penghijauan kembali yang timpang banget. Saya miris setiap melewati daerah penumpukan bahan baku kayu, yang kurang lebih setinggi 5 meter di kiri kanan lo dan membentuk labirin membingungkan. It’s all woods over there! Gimana Riau gak gundul hutannya? Gimana lo ngga makin merasa kalo belakangan udara makin tambah panas, dan musim jadi gak jelas juntrungannya? Dan sekarang, ketika salah satu cukong gedenya ketangkap, eh malah bebas lagi. Oooh nasib. Gimana mau nangkap yang lebih gede, kaya mantan bos besar saya?

 

Tadi malam, sebelum menghabiskan energi dengan cara klasik seorang pecandu bola tingkat gawat, saya berkurung diri di kamar, menyampaikan salam ke ibu saya yang tepat setahun kemarin pergi. Biasalah, Yasinan. Semoga jadi peneman yang baik bagi beliau di alam sana…

Catatan(Se)HarianOmDimas

November 4th, 2007 by dheemuz

   Terduduk seharian di depan televisi memang potensial menurunkan kecerdasan,
yang juga sebenarnya sudah diragukan masih eksis apa tidak. Imbas dari
penitipan rumah oleh induk semang tercinta, saya menghabiskan semalaman,
disambung seharian besoknya, bergelimang malas di sofa butut. Semua makanan
yang ada, yang direlakan dengan embel-embel ”kalo lo mau, sok atuh, diabisin
semua Dim!” telah berpindah secara ikhlas ke dalam lambung. Sebuah perintah
yang salah, tentu saja.

 Saya terhitung jarang nongkrong depan
TV. Bagaimana tidak? Racunnya banyak. Mau racun apa lo? Sinetron? Segenap
sinetron dari segala genre siap mentoksin. Mulai dari sinetron berjudul pendek,
hanya satu kata (umumnya nama tokoh utamanya), sampai dongeng kerdil tentang
benda-benda ajaib, entah kaus kaki ataupun sapu tangan. Mulai dari sinetron ABG
SMU+SMP ga jelas (apakah semua siswi sekarang semenor itu? Siswanya secuek itu
tampilannya?), sampai jajaran sinetron yang rencana awalnya bertema agamis,
ujungnya tetep aja setanis. Ibaratnya, kalau mau cerdas ikut bimbel dan segala
macam program tambahan (dan pastinya bayar), nah kalau mau otak jadi tumpul,
saya merekomendasikan nonton sinetron. Gratis!

 Karbondioksida televisi berikutnya
adalah ghibahtainment (pada gak ngeh?
Kalo infotainment? Got it now?).
Gila. Cerai si anu, selingkuh si fulan, ampe gimana ngurus rumahnya si kampret.
Tak heran NU pernah memberi fatwa
haram ke tayangan satu ini.
Terlalu dalam ngurusin orang lain, bertopengkan asas jurnalisme.
Jurnalisme apaan itu? Jurnalisme rating tokai kucing. Dan parahnya, semua rumah
produksi ghibahtainment ini kayak bebek, ngekor aja bisanya dan diperparah
dengan miskinnya level kreatifitas. Satu gosip, bisa seribu versi tayangan. Si anu cerai, maka
dijamin dari pagi buta sampai tengah malam akan ada saja tayangan gosip berbeda stasiun
membahas hal itu.
Yang paling gak
penting itu yang udahlah ngegosip, pake embel-embel ’investigasi’. Pembawa
acaranya ngomongnya sok diserius-seriusin, sok seram, serasa ngeliat mak lampir
jadi MC.

 Hanya sedikit program bermutu yang
saya sanggup tongkrongin, tentunya yang diluar semua tayangan musik live.
Misalnya saja, Kick Andy atau segenap program National Geographic. Eh, tapi
jangan salah. Kuman televisi berikutnya adalah banyaknya tayangan musik live
dengan band-band yang aduhai menye-menyenya. Saya bukannya mengatakan selera
musik saya sangat bagus, tetapi apakah menonton, misalkan saja (ampuni aku
Tuhan) Kangen atau (sekali lagi mohon ampun ya Tuhan) Radja, bisa memperkaya
pengetahuan musik lo semua? Saya rasa tidak.

 Inilah efek paling buruk dari
dijejelin acara busuk di televisi seharian : saya jadi penggerutu kayak
emak-emak kehabisan minyak tanah karena mahal dan langka…

RenunganDiKomputerNomorSembilan

October 1st, 2007 by dheemuz

Well, sebentar lagi Ramadhan ini akan lewat juga. Bulan shaum tahun ini komplet banget sebenarnya, at least buat saya. Dimulai dengan kocokan-kocokan yang lebih akrab disebut gempa, yang rutin menyapa selama 2 minggu pertama. Buat beberapa orang, yang mungkin lebih tepat kita kategorikan sebagai pemilik kadar paranoid berlebih, rentetan gempa ini mampu melunturkan nyali dan memaksa mengungsi, menafikan qada dan qadar sendiri. Dimanapun kita bisa mati, right? Selama kita masih mampu berikhtiar, sebaiknya jangan lari sebab ini tanda kita diuji. Sebagai orang dan bagian dari kelompok edan yang selalu mampu menarik sisi lucu dari kejadian paling tragis sekalipun, saya hanya akan segera menyeret badan pemalas saya keluar rumah sebentar, menikmati blender alam ini sebentar, sebelum kembali masuk rumah dan menyambung aktifitas. Ikuti saja alam, dan dia akan akrab dengan sendirinya.

Seperti uang logam, hidup selalu punya dua bagian. Selain sisi suka, pasti ada secuil duka. Ini Ramadhan pertama saya tanpa adanya sang mama, ibu, bunda peneduh hati yang selalu bisa menerima segenap kebandelan, kecerewetan dan selera musik anak bungsunya yang aneh tanpa ada keluhan sama sekali. Sosok yang selalu menanyakan saya mau dimasakin apa, sebelum penyakitnya menggurita dan membuat beliau hanya mampu bergerak dengan kursi roda. Setelah figur bapak saya dengan falsafah ‘hidup jangan ngoyo’ nya yang menciptakan saya menjadi orang seperti sekarang, ibu saya adalah matahari dan embun pada saat bersamaan. Ah, saya merindukan pasangan itu. Berdamailah di sana. Mohon disaksikan saja pergerakan anak-anak kalian dengan hati tenang, karena kami pun mengikhlaskan kalian.

Saya akan pulang, mengarah ke rumah yang membesarkan saya.

PolamasMassSuicide

August 6th, 2007 by dheemuz

   Konyol adalah kata yg tepat untuk mendeskripsikan kumpulan pemuda gak jelas yg lebih mirip kerumunan pelaku kriminal daripada, seperti istilah mereka sendiri, anak musik yg maen secara ber-grup <—- aduuh, susah amat sih bilang band!; yg menjadikan sebuah rumah di kompleks Polamas bernomor AA-11 menjadi neraka hang-out. Waktu yg tepat untuk ikut bergabung dengan keriaan mereka, yg tentu saja ada saya di dalamnya, adalah mulai azan mahgrib (yg selalu dengan segera diikuti dengan tangga nada keduanya oleh Broer) sampai malem banget, untuk tidak dikatakan pagi besoknya.

  Apa saja yg dilakukan kalo udah ngumpul gitu? Yg pasti bukan ber gang-bang lah. Tempat rendesvouz itu bisa di lantai atas, kamar Broer, atau lantai bawah, di depan TV. Kalo di atas, maka intisari aktivitas adalah denger musik metal dengan volume yg bisa bikin opa-opa langsung anfal jantungnya. Atau ngulik lagu. Atau baca majalah. Atau ngerumpi *yg terakhir sebenarnya ga banget, tapi mo gimana lagi? Kamyu mau ikut? hwehwehwhe*

  Nah, kalo udah di ruang TV, maka fokus utamanya adalah…yah, what else, ya nonton TV! Biasanya channel favorit adalah Metro TV, dengan berita-beritanya yg bernas, dan penyiar-penyiarnya yg cerdas (alaah, bilang aja lantaran cakep semua!). Tapi adakalanya konsol PS2 dinyalakan, dengan game kegemaran NFS Underground, Guitar Heroes II (Six-nya All That Remains? keciill…beginner yah :P) dan tentu saja Winning Eleven. Game terakhir selalu dipenuhi sumpah serapah, ceng-cengan tertajam, dan ledekan terdalam. Jangan pernah makai MU kalo ga bisa menang, karena keponakan jauh pemilik MU, Malcolm Glazer, yg bernama Dimas Glazer, akan segera memaki-maki siapa pun playernya. Hehehe. Bahkan di dunia maya pun MU harus jaya!

  Berhubung ruang TV langsung bablas ke dapur, maka kegiatan yg juga sering dilakukan adalah memasak. Who said that metal guys can’t cook? Kemaren aja pas ultah Amu anak2 pada masak spaghetti yg saosnya yummy sekali. Nah, tetapi itu tidak gila, biasa aja. Favorit masakan anak-anak, yg sering dilakukan terutama untuk proses inisiasi orang-orang malang yg jarang hang-out ama anak2, adalah……….jrengjrengjrengjreng : MIE INSTAN MASSAL! *terdengar soundtrack film 300 di kejauhan*

  Berbicara tentang mie-nya, ga ada yg aneh. Mau mie goreng atau rebus, serahkan pada chef Broer. Dia akan mengolahnya dengan penuh cita rasa. Yg harus digubris adalah kuantitas mie itu sendiri. Kita terbiasa mengalikan jumlah orang yg ada pada saat itu dengan angka 3 atau bahkan 4, jika sedang nekat. Contohnya : yg lagi ada saat itu adalah saya, Broer, Amu, Apit, Marjaik. Maka minimal pembelian bahan baku mie instan adalah 15, atau kadang 20. Dan kadang mie itu sekalian dibawa  dari warung dengan kardusnya sekalian, karena toh 20 bungkus itu adalah setengah kardus, right? Perlu penggorengan besar untuk memasak mie sebanyak itu, serupa dengan penggorengan yg dipakai dalam acara perhelatan. Sudah jelas mie-nya banyak, terkadang masih ada satu dua orang yg nekat makan tetap ditambah nasi (ngaku aja lo Dim!). Jika ada yg penasaran, apa efek yg ditimbulkan dari proses meracuni diri sendiri secara sadar ini, maka dapat dilaporkan bahwa akibat yg timbul adalah :

   - kita kenyang banget, tapi perasaan hampa.
   - seperti terjadi penurunan kecerdasan, ditandai dengan omongan yg melambat.
   - rasa kantuk hebat melanda, ditengarai karena nihilnya gizi pada sang mie.

  Well, tetap saja kami tidak pernah tobat nasuha mengadakan pesta durjana semacam. Ada yg niat ikut mass suicide ala kami?           \m/

DemamSabtuMalam

July 28th, 2007 by dheemuz

   Seharian dihabiskan dengan asyik. Dimulai dari merayap ke TIKI untuk mengirimkan passport Ina ke kota angkot Bogor. Kemudian terpuruk di BMC ampe sore, ngalor ngidul dengan pemegang lisensi BC Rich dan drummer pencinta alat kesehatan, diselingi makan all-you-can-eat-tapi-awas-gak-abis untuk pengisi perut siang. Menyimak lagu penuh kata-kata dari septic tank terdekat yang didedikasikan untuk band tersohor asal Lampung, Missing Band. Dari cara penuturannya, saya curiga ini orang yang sama dengan pemborbardir radio swasta dan majalah musik 2 tahun lampau dengan ‘Baon Cikadap’. Anyway, doesn’t matter at all.

   Malam minggu bengong di AA-11 (harap maklum, dari 6 personil, yg laku baru dua orang, satu menikah, tiga berkarat). Pilih mana : Inter vs Valencia atau Indonesian Puppet Idol? Jam 21.15 berangkat-yiiuukk ke pojokan Hindi Punjab di sudut kota, narik kopi dan nasi goreng berminyak samin dengan porsi walapdolin. Mulut yang gak bisa dijaga bertahan sampai jam 23.30, ditandai dengan tibanya sang calon mempelai buat saudara Marjaik, uhuhuhu. Menuju ke sesawahan di belakang Polamas, dihibur dengan suara orgen tunggal di balik sawah yang sepertinya sangat hot dengan hits seperti ‘Kucing Garong’ dan ‘SMS’; menyambung topik absurd tentang hal-hal berguna seperti :

  1. Menyabot pipa air pemadam kebakaran yg terdapat di setiap konser musik dan menghubungkannya ke truk tinja. Tertawa membayangkan betapa chaos hasilnya.

  2. Menjadi dermawan gratis penyalur pil-pil kenikmatan untuk para penggemar dunia malam, disanjung sedemikian rupa saking baiknya membagikan tablet-tablet mungil tanpa bayaran; hanya untuk kemudian mendapati kenyataan bahwa sang tablet adalah hasil kejeniusan racikan antara Antimo, broklak dan garam Inggris. Tertawa juga membayangkan efeknya.

  3. Menjadi penengah khalayak yang bertempur di dugen (dunia orgen) karena pengaruh cekik botol dan pakem klasik senggol-bacok; untuk kemudian menyuruh sang biduan untuk mengganti tembang yg dinyanyikan dengan anthem klasik tahun 65′an, ‘Genjer-Genjer’. Dan ternyata setiap orang bawa celurit. Beberapa diantaranya bawa palu, sepertinya pandai besi mereka itu. Tetap terkekeh membayangkan kemungkinan tersebut. Sepertinya bakal menjadi film bagus di bawah arahan alm. Nya’ Abbas Acoeb.

  Mungkin Tuhan murka karena topik kami yang sia-sia, karena tak lama berselang terdengar jeritan menyayat dari sang gitaris : "Ulaaar!!". Sontak semuanya bangun. Taunya, anak-anak yang ngaku-ngaku metaller sejati ini, yg menghabiskan hari-hari dengan See You Next Tuesday atau The Red Chord, ternyata kompakan geli ama ular. Ularnya dari spesis ular tikus a.k.a ular sawah, dan menurut penuturan ahli ular dari Tembilahan yg juga personil Ardana Mr. Rian Kemenakan, ular itu cukup berbisa. Dia bisa apa saja, maksudnya. Berbagai metoda dicoba, mulai dengan menjolok pake galah, ditaburin garam ampe disiram air panas ama om Flaming Lips (baca : om bibir membara, saking jatuhnya itu bibir). Ada usulan juga untuk menguji coba bisa sang ular pada seekor kucing sial yg kebetulan nongkrong deket-deket situ. Usulan ditolak secara aklamasi.

   

Itulah resiko nongkrong deket sawah, ya ketemunya makhluk-makluk begituan. Asal jangan pak tani tanpa kepala aja, karena kemungkinan besar pak tani ini ada perasaan cemburu dengan pastur Jeruk Purut.

   Tabik.